"Setelah mengambil hasil tes kromosom hari senin, kita langsung ke RS Pramitra untuk tes hormon," ungkap Rina, ibu kandung In, saat dihubungi detikbandung, Rabu (2/2/2011).
Dijelaskan Rina, dokter dari RS Rajawali langsung merujuk In ke RS Pramitra untuk tes hormon. Sebab, RSHS sebagai rumah sakit rujukan milik pemerintah, tidak memiliki alat untuk tes hormon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rina mengatakan, hasil tes hormon diperkirakan tidak akan lama. "Katanya sih hari ini juga bisa diambil. Kita mau berangkat hari ini," harapnya.
Selain hasil tes kromosom, hasil tes hormon akan menentukan operasi yang akan dilakukan terhadap In. Apakah akan dioperasi menjadi laki-laki atau perempuan seutuhnya, itu tergantung hasil dua tes tersebut. Rencananya, operasi bakal dilakukan di RSHS meski belum diketahui kapan dilaksanakan.
In sendiri membutuhkan empat kali operasi untuk menyembuhkan kelainan pada tubuhnya itu. Sekali operasi, biaya yang dibutuhkan mencapa Rp 15 juta. Total, biaya yang harus tersedia adalah Rp 60 juta.
Saat dilahirkan, In berkelamin perempuan. Namun saat berumur 4 tahun, tiba-tiba muncul penis di celah vaginanya. Makin lama makin membesar. Namun untuk buang air kecil, vaginanya masih berfungsi. In sendiri sejak umur 2 tahun memperlihatkan perilaku anak laki-laki. Dia lebih senang bermain mobil-mobilan daripada boneka. Dia juga berontak jika dipakaikan kerudung.
Bagi pembaca yang ingin menyumbangkan sedikit rezekinya, redaksi detikbandung membuka dompet peduli In. Pada saat dompet peduli ditutup, kami akan mengumumkan berapa dana sumbangan bagi In.
(/)











































