"Kita sudah minta penjelasan dari perencana, konsultan pengawas, dan pihak lainnya. Semua mengakui keterlambatan ini dikarenakan berbagai hal, antara lain cuaca," kata Dada kepada wartawan di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Senin (17/1/2011).
Secara pribadi, ia menginginkan pembangunan selesai Desember 2011. Namun, jika situasinya tidak memungkinkan dan terkesan dipaksakan, Dada memilih pasrah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada dengan Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda saat meninjau pembangunan SUS Gedebage beberapa waktu lalu, Dada mengungkapkan hal sama. Di mana keterlambatan pembangunan diakibatkan cuaca yang jelek yakni curah hujan yang mencapai 6 persen dalam setahun selama 2010.
"Sampai hari ini, yang harusnya pembangunan mencapai 25 persen, baru 17 persen saja. Kenapa? Ini karena cuaca. Kondisi tanah di situ juga lembek," terangnnya.
Sementara terkait lembeknya struktur tanah di lokasi pembangunan SUS Gedebage, hal itu memerlukan penanganan khusus. Untuk memperkuat struktur tanah, diperlukan penimbunan dengan tanah setinggi 3 meter.
"Kalau tidak ditimbun, tiang pancang nantinya bisa miring. Kalau sudah miring, itu harus dicabut dan susah sekali mencabutnya," jelas Fores Jieprang, konsultan perencana SUS Gedebage saat ditemui di tempat yang sama.
Ia menyatakan, pembangunan bisa molor karena tergantung cuaca dan proses penimbunan. Hingga saat ini, proses penimbunan masih berjalan.
"Kalau tidak ditimbun, dalam 20 tahun ke depan tanahnya pasti akan turun, makanya perlu ditimbun. Perlu waktu (tambahan). Yang terpenting bisa dipertanggungajawabkan," paparnya.
(ors/avi)











































