Meski perannya bagi kemerdekaan Indonesia sangat besar, namun tak banyak orang mengenal sosok Inggit Garnasih, istri kedua Presiden RI pertama Soekarno. Meninggal 14 tahun lalu, makam Inggit jarang diziarahi orang. Hanya pada momen-momen politik, seperti Pemilu saja, banyak orang yang berziarahi makamnya.
"Jarang yang datang. Kalau satu bulan ini misalkan ada yang datang, tiga bulan lagi enggak. Keluarganya juga jarang datang, paling enam bulan sekali atau bahkan satu tahun sekali," ujar Oneng Rohiman (70), laki-laki tua yang merawat makam Inggit saat ditemui di TPU Babakan Ciparay, Jumat (17/12/2010).
Peziarah yang datang seingat Oneng berasal dari Bandung, Jakarta, Blitar, dan Bengkulu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan Rieke Dyah Pitaloka yang pada kampanye pemilu legislatif 2009, datang berziarah. "Pas ke sini, Oneng (Rieke-red), berikan tiang bendera dari besi, asalnya kan di sini cuma kayu," katanya.
Kondisi cungkup makam Inggit terancam roboh. Enam tiang penyangga atap bangunan miring hingga 20 derajat.
Roman percintaan Inggit dan Soekarno berawal saat Bung Karno kos di rumah Inggit di Bandung. Pernikahan mereka di era perjuangan penuh dengan romantika dan dinamika.
Memang, Inggit-lah yang paluig pas mendampingi Soekarno muda. Ia tahan gempuran gosip, gempuran cemooh, bahkan pelecehan polisi Belanda, apalagi diketahui ia adalah isteri musuh orang nomor satu pemerintahan Hindia Belanda.
Inggit sabar dan setia mendampingi Soekarno hidup di pengasingan, baik di Ende maupun Bengkulu.
(ern/ern)











































