Sekitar 5.000 pekerja Sentra Rajutan Binong Jati sudah 3 minggu ini menganggur. 70 persen perajin di tempat tersebut terancam bangkrut. Hal ini dipicu kenaikan harga baku benang serta pasar yang sedang lesu.
Hal tersebut dikatakan Sekretaris Paguyuban Rajut Muda Bandung, Asep Suherman, usai acara dialog menyikapi kenaikan bahan baku benang di Gedung Yayasan Nur Ummat, Jalan Binong Jati, Kota Bandung, Rabu (8/11/2010).
"Dari 400 perajin yang ada di sentra rajut Binong Jati ini, sudah 3 minggu 70 persen perajin menghentikan aktivitas produksi. Ini dikarenakan harga benang yang naik dan daya beli pasar yang lemah," ujar Asep.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asep menambahkan, harga benang untuk keperluan produksi saat ini mencapai Rp 5.500 per kilogram, pada bulan April 2010 harga benang hanya Rp 3.000 per kilogram. Menurut Asep, tentu saja hal tersebut memberatkan para perajin.
"Biasanya kirim barang rajutan ke sejumlah tempat harganya Rp 250 hingga Rp 300 ribu per lusin. Nah ketika kami naikkan harganya Rp 15 ribu, pasar tidak menerimanya dan seolah tidak mau tahu," keluh Asep.
Saat ini produksi hasil perajin Binong Jati sudah menyebar ke sejumlah tempat di antaranya seperti Tanah Abang, Tegalubuk Cirebon, Solo, Semarang, Kudus dan Padang.
Asep juga menyatakan, biasanya sebelum ada kenaikan satu perajin bisa memproduksi 12 hingga 36 lusin baju rajut per malam. Kalau saat ini yang 30 persen hanya mampu memproduksi 6 sampai 18 lusin.
"Melihat kondisi saat ini kami terpaksa menghentikan dulu aktivitas hingga menunggu harga bahan baku stabil. Ya memang sudah menjadi fenomena ketika di pasaran sepi, bahan baku jadi naik," ujar Asep.
Asep menuturkan para pengusaha atau perajin mencoba terus memberi pengertian secara logis kepada pekerja yang menganggur dengan waktu yang tak bisa ditentukan. "Semoga cepat mendapat solusi, agar para pekerja yang sudah pada berumah tangga bisa kembali bekerja," terangnya.
Pekerja tersebut kebanyakan berasal dari Sukabumi, Lembang, dan kota lain di Jabar. "Kami akan tetap mencari solusi, juga menunggu respon dari pasar agar bisa menggeliat lagi. Tentu saja kami akan tetap eksis dan mencari jalan alternatif. Tetapi saat ini kita bersikap diam dan menunggu terlebih dahulu," tegas Asep.
(avi/ern)











































