Indonsia. Penjualan batik pun melesat, namun banyak juga yang memanfaatkan momen ini untuk menarik keuntungan dengan cara mengelabui masyarakat yang belum mengerti batik.
Banyak produk pakaian bermotif batik yang sebenarnya adalah kain tekstil yang disablon dengan motif batik, kemudian diakui sebagai kain batik halus.
"Saya hanya ingin produsen kain tekstil sablon bermotif batik untuk berlaku jujur. Kalau itu memang kain printing, jangan ditulis batik tulis halus lah.
Kasian masyarakat, sudah senang-senang pakai batik, ternyata itu cuma kain printing motif batik. Jangan mengelabui masyarakat," ujar Ketua Yayasan Batik
Jawa Barat (YBJB) Sendy Yusuf usai membuka Pameran Pesona Batik Nusantara 2010 di Pasteur Hyper Point, Jalan Dr Djunjunan, Rabu (1/12/2010).
Sendy juga berharap kain batik jangan dinilai dari harga barangnya saja, namun harus memikirkan proses pembuatannya yang panjang dan rumit.
"Pembuatan batik itu dilihat dari lama bekerjanya dan nilai seni tersendiri. Jadi jangan hanya hanya lihat harga helai kainnya, tapi juga proses di dalamnya, juga kesempatan peluang kerja yang tercipta dari proses itu," katanya.
Untuk menjaga kelestarian motif batik, YBJB pun mengimbau pada perajin batik untuk menuliskan nama usaha, lokasi dan motif batik di ujung kain.
"Misalnya, Batik Mia Garut motif Bulu Ayam. Jadi sampai kapanpun orang tahu asal usul batik tersebut," papar Sendy.
Di Jabar sendiri, saat ini sudah tercatat sekitar 200 motif batik dari seluruh kabupaten dan kota yang ada.
(tya/ern)











































