Taupik alias Bius (18) beserta rekannya yakni Andri alias Jawa (19), Ivan alias Peng (18) dan Heri alias Jocong (18) mesti terhenti aktivitasnya setelah ditangkap polisi.
Sebagai pimpinan, Bius memerintahkan sahabatnya itu untuk turun ke jalan pada waktu malam dan menjelang Shubuh. Ia pun memilih lokasi-lokasi di Kota Bandung yang dianggap sepi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bius bersama tiga sohibnya itu mengaku sebagai anggota geng motor Moonraker cabang Bandung Timur. Hasil barang berharga yang dirampas itu lalu dibagikan dan dijual.
"Kalau saya, hasil uangnya dibelikan obat diabetes," kata Bius yang sudah lima tahun ini mengidap diabetes akut.
Berurusan dengan polisi bukan kali pertama dialami Bius. Remaja ini pun pernah tertangkap dan dipenjara di Rutan Kebon Waru pada 2008 lalu. "Kasusnya sama. Saya ngejambret," akunya.
Bius mengaku terpaksa menjambret untuk cepat mendapat uang. Didera diabetes yang obatnya terbilang mahal membuatnya memilih bertindak kriminal. Selama ini, kata Bius, sang ibu yang sudah bercerai tidak memiliki pekerjaan. Satu ampul obat cair diabetes harganya Rp 450 ribu. "Sehari saya butuh dua ampul," lirihnya.
Tercatat berandalan bermotor ini pernah menjambret di fly over Pasupati (3 kali), kawasan Pusdai (5 kali), Jalan Pahlawan (4 kali), Jalan Surapati (3 kali), di depan RRI Bandung (2 kali) dan Jalan Sukajadi (2 kali).
(bbp/ern)











































