"Kalau mengadakan acara seperti ini lagi, saya rasa tidak dulu lah. Karena melihat animo masyarakat dalam diskusi ini seperti ini, takut blunder atau terulang kejadian yang sama," kata Ketua Panitia, Adam Pasuna Jaya.
Dijelaskan Adam, tujuan diskusi tersebut adalah menghasilkan solusi terkait rencana pembangunan PLTSa. Di mana, antara kalangan pemerintah, akademisi, dan masyarakat duduk bersama menyelesaikan masalah yang ada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Narasumber mengambil bahasan social impact, dan subjektifitasnya tinggi. Makanya tidak ketemu apa yang dibicarakan dengan keinginan peserta diskusi," jelasnya.
Adam mengatakan, sebelumnya panitia sudah memprediksi akan terjadi aksi sebab ada kubu pro dan kontra. Sehingga, panitia memberlakukan registrasi untuk peserta diskusi.
"Kami sebenarnya sudah punya gambaran akan terjadi seperti ini, makanya kami memberlakukan registrasi untuk menyaring orang yang masuk. Tapi yang datang justru membeludak sementara panitia terbatas dan tidak bisa dikendalikan," paparnya.
Dibubarkannya diskusi, sambung Adam, sudah merupakan keputusan tepat. Sebab jika dilanjutkan tidak akan kondusif. "Panitia sudah tepat membubarkan acara," katanya.
Di tempat yang sama, penggiat pengelolaan sampah Dwi Retnastuti mengatakan, mayoritas warga Perumahan Cempaka Arum akan tetap menolak rencana pembangunan PLTSa. "Kami akan tetap menolak rencana pembangunan PLTSa sampai titik darah penghabisan.
Atas adanya insiden tersebut, sambung Dwi, masyarakat bisa melihat perilaku orang yang pro terhadap rencana pembangunan PLTSa. "Cerminan mereka yang pro PLTSa terlihat dari sini," tegasnya.
(ors/ern)











































