"Di merapi itu ada 25 anak yang cacat, tiga di antaranya sudah cacat sejak lahir jauh sebelum gunung merapi meletus," ujar Direktur Pelayanan Sosial Anak Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kementrian Sosial RI Harry Hikmat, dalam Munas Forum Komunikasi Keluarga dengan Anak Cacat di Grand Pasundan, Jalan Peta, Kamis (4/11/2010).
Menurut Harry, berdasarkan pengalaman sebelumnya, anak memiliki risiko tinggi untuk mengalami cacat, saat lingkungan tempat tinggalnya mengalami bencana alam. Misalkan dulu di Aceh, ada 37 anak yang cacat setelah kejadian tsunami. Lalu Bantul, 7 anak mengalami cacat karena tertimpa reruntuhan bangunan, saat terjadi gempa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anak yang mengalami kecacatan pasca bencana, kata dia, trauma psikologisnya lebih tinggi dibandingkan mereka yang cacat sejak lahir. Sebab mau tak mau, mereka harus menerima kenyataan kondisi tubuhnya tidak seperti semula.
"Umumnya mereka shock akibat bencana. Untuk memulihkan mental anak yang terkena bencana, khususnya yang mengalami kecacatan, harus diberi pendampingan psikologis, seperti trauma healing serta perbaikan psiko sosial," kata dia.
Untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka, kata Harry, dibutuhkan waktu yang cukup lama. Ia mencontohkan, seperti anak yang kena alami patah tulang di Aceh, harus didampingi selama 3 bulan. "Pendamping harus terus memberikan semangat agar kepercayaan diri si anak kembali lagi," tutur Harry.
Sementara itu, Harry mengaku untuk korban anak yang mengalami kecacatan akibat tsunami di Mentawai, pihaknya belum mendapat laporan. "Memang ada beberapa yang dirawat, tapi apakah mengalami kecacatan atau tidak, kita belum tahu," katanya.
(ern/ern)











































