"Setiap pasar harus punya fermentor sampah," kata Simon Sanjaya, pelaksana program corporate social responsibility (CSR) Yayasan Simon Sanjaya, saat ditemui di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Selasa (26/10/2010).
Simon mencontohkan Pasar Andir. Beberapa tahun lalu, pihaknya sudah menyarankan agar pasar tersebut memiliki fermentor, tapi tidak ditanggapi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akhirnya karena tidak ada fermentor, sampah di pasar itu sering menggunung dan menimbulkan bau tak sedap. "Sekarang yang terjadi pasar tersebut justru sedikit pengunjungnya, kiosnya juga banyak yang kosong," ungkapnya.
Dijelaskan Simon, fermentor dapat mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. Sampah yang dihasilkan pasar jika dibiarkan menggunung, akan membusuk dalam waktu beberapa hari dan menimbulkan bau tak sedap.
"Kalau diolah dengan fermentor, sampah akan terurai dan tidak menimbulkan bau tak sedap. Paling hanya bau daun kering, tidak mengganggu" terangnya.
Kamis (21/10/2010), Simon sudah mengajukan surat permohonan pembangunan 50 set fermentor sampah ke Presiden untuk dibangun di Bandung. Biaya yang dibutuhkan yakni Rp 5 miliar.
Fermentor tersebut nantinya akan dibangun di 50 RW yang ada di Kota Bandung sebagai solusi mengatasi permasalahan pengolahan sampah.
(ors/ern)











































