Kota Bandung Butuh 50 Fermentor Sampah

Kota Bandung Butuh 50 Fermentor Sampah

- detikNews
Selasa, 26 Okt 2010 11:33 WIB
Kota Bandung Butuh 50 Fermentor Sampah
Bandung - Kota Bandung membutuhkan sedikitnya 50 set fermentor (alat untuk memproduksi mikroba-red) sampah. Hal itu untuk menanggulangi permasalahan sampah yang sering menggunung di beberapa titik di Kota Bandung. Demikian dikemukakan Simon Sanjaya, pelaksana proram corporate social responsibility (CSR) Yayasan Simon Sanjaya.

"Kamis (21/10/2010), kami sudah mengirimkan surat ke Presiden RI untuk pembangunan 50 set fermentor sampah di Bandung," kata Simon, saat ditemui di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Selasa (26/10/2010).

Pengajuan tersebut, sambung Simon, sengaja ditujukan langsung ke Presiden. "Alasannya, supaya bisa lebih cepat terealisasi," ungkapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diharapkan, Presiden segera merealisasikan program yang diajukannya. Sebab, untuk membangun 50 fermentor sampah memerlukan waktu lebih dari sebulan. Sementara biaya yang diajukan untuk pembangunan tersebut adalah Rp 5 miliar.

Selama ini, sampah di Kota Bandung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang kontraknya berakhir Desember 2010. Hingga kini, belum ada solusi sampah dari Kota Bandung akan dibuang ke mana setelah kontrak dengan TPA Sarimukti berakhir.

Data yang dihimpun detikbandung, Bandung setiap harinya menghasilkan 7.500 meter kubik sampah. 60 persen dari jumlah sampah tersebut berupa sayuran yang sebenarnya bisa diolah menjadi kompos jika menggunakan fermentor.

Simon menjelaskan, lahan yang dibutuhkan untuk membangun satu set fermentor adalah 100 meter persegi. Bentuk fermentor sendiri berupa bak besar yang di bagian bawahnya ada saringan berbahan stainles.

"Saringan stainles itu untuk memisahkan air yang terkandung dalam sampah organik," ujarnya.

Sampah organik yang diolah melalui fermentor akan menghasilkan pupuk kompos sekitar 10 persen. Misalnya, jika sampah yang diolah 10 meter kubik, akan menghasilkan 1 meter kubik pupuk kompos setelah melalui berbagai proses. "Kualitas pupuknya juga bagus," terangnya.
(ors/avi)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini