"Ada 10 titik daerah di perlintasan kereta yang rawan pergerakan tanah," ungkap Kepala Humas PT KA Daop II Bandung, Bambang S. Prayitno, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (25/10/2010).
Jalur rawan tersebut di antaranya perlintasan Ciganea-Sukatani, Cirengas Lampegan, Nagreg-Lebak Jero, Warung Bandrek-Bumi Waluya, dan lain-lain. Di kawasan tersebut mayoritas banyak bukit yang bisa sewaktu-waktu longsor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bambang mengatakan, pihaknya menargetkan menanam 10 ribu pohon hingga Januari 2010. September lalu, sedikitnya sudah ditanam 4 ribu pohon yang berasal dari sumbangan beberapa pihak seperti karyawan, PT Perhutani, Dinas Kehutanan Jabar, dan lain-lain.
Selain itu, ada juga manajemen atau perbaikan drainase, pemasangan portal, dan lain-lain. "Di bukit yang rawan misalnya, kita pasang portal agar tidak terjadi longsor yang dapat mengganggu perjalanan kereta," katanya.
Dijelaskan Bambang, PT KA bakal terus melakukan pengawasan dan perbaikan di sepanjang jalur kereta. "Minimal kita bisa melakukan pendeteksian sejak dini," ujarnya.
Bambang menambahkan, kasus anjloknya kereta Harina di jalur antara Ciganea-Sukatani beberapa waktu lalu, juga diakibatkan pergerakan tanah. Bukit di kawasan tersebut longsor dan menghalangi jalur kereta hingga mengakibatkan anjlok.
(ors/avi)










































