"Saya langsung tutup hidung saat air datang. Lalu terbawa arus hingga keluar pipa," kata Rusyani saat ditemui di kamar mayat Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Minggu (24/10/2010).
Senada diungkapkan korban selamat lainnya, Rudin. Saat itu ia kaget karena air begitu deras dan memenuhi lingkaran pipa. Pria tersebut langsung sigap kalau bahaya sedang mengancam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rudin sempat mengambil nafas saat kepalanya mengarah ke bagian atas pipa. Aksi tersebut membuat bagian dahinya lecet-lecet. "Kebetulan ada celah sedikit. Saya segera ambil nafas dan jalan berjongkok untuk keluar dari pipa," ujarnya.
Rudin berkisah, sebelum kejadian papan air jebol, ia bersama empat pekerja lainnya berada di dalam pipa beton. Posisi mereka masuk satu persatu. Orang pertama masuk gorong-gorong itu yakni Hendi, lalu disusul Rusyani dan Parman.
"Setelah itu menyusul Warsim. Kalau saya di posisi terakhir," ungkap Rudin.
Posisi Rudin dan Warsim berdekatan. Sementara tiga rekannya tersebut sudah diujung atau berada di pipa ke 36. Satu pipa beton itu panjangnaya 2,4 meter. Jadi, posisi Hendi, Rusyani dan Parman, berada sejauh sekitar 85 meter.
"Kalau saya dan Warsim baru nyampe tiga meter. Atau baru berjalan jongkok tepat di pipa kedua. Kami berdua di belakang mereka yang jaraknya jauh," jelas Rudin.
Rusyani yang berada di bagian depan bersama Hendi dan Parman, bernasib untung. Namun nasib berkata lain bagi kedua rekannya tersebut.
Di bagian belakang, Rudin mampu melawan malapetaka. Sementara Warsim tak mampu bertahan hidup. "Sepertinya Warsim panik dan kehabisan nafas saat air merendam tubuh," ujar Rudin yang mengatakan saat itu para pekerja sedang membersihkan pasir dan batu yang berada di sekitar gorong-gorong.
(bbp/ern)











































