Tono (35) pemilik Nasi Pindang Ndut memang sengaja memboyong dagangannya dari Semarang dengan modal Rp 11,5 juta dari penyelenggara. "Saya dimodali untuk ikut festival di Bandung. Sempat nyasar-nyasar soalnya saya ndak tau jalan, mana diperjalanan dimintai pungli terus," tutur Tono mengisahkan perjalanannya.
Di kota asalnya, Nasi Pindang Pak Ndut sudah terkenal dan memiliki langganan dari berbagai kalangan. Mulai dari masyarakat biasa, pegawai kantor pemerintah, hingga pejabat-pejabat daerah turut menjadi penggemar sajian tradisional 6000 rupiah semangkok tersebut.
Pada detikbandung Tono menuturkan, di Semarang dia bisa menjual hingga 500Β mangkok. Tiap harinya Nasi Pindang Ndut mulai berjualan pukul 7.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB dagangan selalu ludes.
Nasi pindang ini mulai berjualan sejak 50 tahun lalu. Awalnya Pak Ndut, ayah dari Tono, berjualan di Jalan Petugungan, Semarang. Pada tahun 1973, pikulan Pak Ndut pindah ke Lapangan Diponegoro. "Setelah itu usaha berkembang, kami mulai punya kios sederhana yang permanen," ungkap Tono.
Salah satu langganan nasi pindang adalah Mendagri Mardiyanto pada saat masih menjabat Gubernur Jateng. Pelanggan juga kerap datang dari luar Semarang, terutama Jakarta. "Lebaran kemarin beberapa langganan Jakarta minta supaya saya jualan di sana saja, tapi saya bilang ndak sanggup," kata Tono.
Namun Lebaran kemarin juga meninggalkan duka untuk Tono. Pak Ndut berpulang pada hari ketiga perayaan Idul Fitri, meninggalkan usaha ini pada istrinya (ibunda Tono) Musrifah (58). Kendala umur membuat Musfirah akhirnya menyerahkan ini kepada Tono.
"Semoga usaha ini tetap lancar ditangan saya," harap Tono.
(tya/tya)











































