Hal tersebut disampaikan Wakasek Bidang Kesiswaan, M. Kosasih, saat ditemui di ruang guru SMPN 28 Bandung, Jalan Solontongan, Rabu (13/10/2010).
"Devie itu memiliki prestasi biasa-biasa saja. Selama menjadi murid di sekolah ini, berdasarkan buku catatan kami tidak menemukan Devie bermasalah," ungkap Kosasih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa hari setelah Devie diketahui tidak pulang ke rumah, bapaknya datang menemui saya ke sekolah. Saat mendengar keterangan bapaknya, jelas kami terkejut. Pihak sekolah merasa prihatin dengan kejadian ini. Kami tetap berdoa semoga Devie segera pulang," tuturnya.
Terkait Devi yang hilang diduga dibawa kabur seorang pria yang berkenalan di facebook, Kosasih berserta guru lainnya memberi penyuluhan kepada seluruh murid
mengenai perkembangan teknologi internet.
"Sebelum Devie hilang, pihak sekolah sudah menyampaikan kepada murid untuk berhati-hati menggunakan atau mengakses info dari internet. Kami selalu mengimbau agar tidak mudah percaya kepada orang baru dikenal melalui facebook atau lainnya," terang Kosasih.
Di SMP 28, kata Kosasih, hanya kelas tiga yang diajarkan internet. Namun begitu, pihaknya tak bisa memantau para murid kelas satu dan dua terhadap teknologi
internet.
"Anak-anak sekarang kan lebih pintar. Itu ditunjang dengan handphone yang dilengkapi akses internet. Malah handphone milik murid lebih canggih ketimbang hadphone milik gurunya," tutup Kosasih sembari tersenyum.
(bbp/ern)











































