"Ya optimis, November 2010 kita akan lakukan tender. Saat ini perkembangannya tinggal ke dewan untuk minta dukungan," kata Dada saat Ekspose PLTSa di Auditorium Dada Rosada, Balai Kota, Jalan Wastukencana, Rabu (29/9/2010).
Enam perusahaan yang ikut tender itu adalah PT PT Bandung Raya Indah Lestari (BRIL) dengan teknologi incenerator , PT Imam Tata Kerta Raharja dari Jakarta dengan teknologi gasifikasi, Korea Eco-energy environment tech dari Korea dengan teknologi incenerator, PT Meta Epsi dari Jakarta dengan teknologi gasifikasi, Samsung dari Jakarta dengan incenerator, Keppel Begher dari Singapura menawarkan incenerator.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dada menambahkan dana yang dibutuhkan untuk membangun PLTSa ini Rp 600 miliar. Saat ini Pemkot baru menyanggupi Rp 524 miliar. "Untuk penambahan pinjaman kita hitung dulu ke pengusaha, kita bisa pinjam ke pemerintah pusat," kata Dada.
Dari luas lahan yang dibutuhkan 20 hektare, yang dibebaskan baru 13 hektare. "Sebetulnya untuk pabriknya hanya 2 hektare. Sisanya bisa jadi agrowisata, ada hutan kota dan pertanian," ujar Dada.
PLTSa itu nantinya hanya menampung 750 ton sampah sehari. Angka ini jauh dari angka produksi sampah di Kota Bandung yang mencapai 1.800 ton per hari. "Ini tahap awal 750 ton, nanti bisa ditambah lagi sesuai kebutuhan dan keuangan," tuturnya.
Sambil menunggu PLTSa ini rampung, sampah di Kota Bandung akan tetap dibuang ke TPA Sarimukti. "Kalau Sarimukti tak sanggup, terpaksa kita cari TPA baru. Meski berat cari TPA baru, saya sudah cari ke Kabupaten Bandung dan wilayah lainnya, tapi ditolak," curhat Dada.
(ern/ern)











































