Pada Jumat (17/9/2010), sekitar pukul 16.30 WIB, hujan mengguyur deras. Tiba-tiba, angin bertiup kencang disertai suara gemuruh keras.
"Selama setengah jam angin berputar-putar dari satu arah ke arah lain. Seperti menari-nari. Genteng, asbes dan material bangunan berterbangan," jelas Dadeng (34), warga RT 3 RW 3, Kampung Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (18/9/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya, anginnya berputar 30 menit. Seperti ombak saja, datangnya bergelombang. Genteng dan asbes melayang-layang seperti layangan," jelas warga lainnya, Cucu Komar (53), yang rumah biliknya ukuran 4x6 meter rata dengan tanah akibat kejadian itu.
Kerusakan parah memang melanda rumah-rumah semi permanen yang terbuat dari kayu dan bilik. Dahyastnya puting beliung, membuat rumah sederhana itu porak poranda.
"Kalau dari tingkat kerusakan, kebanyakan rusak berat itu rumah semi permanen, yakni rata dengan tanah. Sementara rusak sedang itu paling tembok dan genteng hancur. Kalau rusak ringan hanya genteng atau atap saja yang hancur," jelas Ketua RT 3, Ades Maryana, yang lokasinya berada di RW 3.
Di posko bencana angin puting beliung di RW 09 tercatat, rumah yang rusak tercatat 558 rumah. Dengan rincian di RW 2Β terdapat 156 rumah rusak,Β 9 rusak berat, 33 rusak sedang, 114 rusak ringan. RW 3 terdapat 200 rumah rusak, 4 rumah berat, 28 rusak sedang, 172 rusak ringan. Di RW 4 terdapat 57 rumah rusak, 1 diantaranya rusak berat, 10 rusak sedang, 46 rusak ringan. Di RW 6 ada 17 rumah rusak, 1 rumah rusak sedang, 16 rusak ringan. Dan di RW 09 dari 128 rumah rusak, 2 rumah rusak berat, 7 rusak sedang, 139 rusak ringan.
Total sementara, jumlah rumah rusak berat di 5 RW tersebut yang tercatat di posko yaitu 16 rumah. Sebuah rumah semi permanen di RW 3 RT 3 rata dengan tanah.
(bbp/tya)











































