Dari sekitar 41 orang yang terjaring operasi yustisi di Stasiun Kiaracondong hingga pukul 16.30 WIB, 5 orang diantaranya terbukti tak memiliki KTP. Rifah adalah salah satu dari 5 orang yang tak membawa KTP tersebut.
Rifah terlihat gugup dan kebingungan saat ditanyai petugas dari Disdukcapil sebelum pintu keluar stasiun. Apalagi sejumlah wartawan elektronik dan cetak ikut meliput kegiatan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengaku baru pertama kali ke Bandung dan berencana bekerja menjadi PRT di daerah Cijerah. Rifah datang ke Bandung dibawa kakaknya Susi (27).
"Rencananya saya ke Bandung ini mau jadi pembantu. Kerjanya di sebelah rumah tempat kakak saya kerja," ujar Rifah saat didata petugas.
Dia mengaku punya KTP di Banyumas tapi tidak terbawa. Makanya dirinya kaget ketika tiba di Stasiun Kiaracondong dicegat oleh petugas Disdukcapil.
"Tadi kaget pas dihadang petugas. Pikiran juga enggak karuan, mau diapain. Tapi ternyata saya hanya didata," katanya.
Tujuan Rifah bekerja di Bandung yaitu untuk membantu orang tua yang ada di Banyumas, juga untuk membiayai adiknya yang masih duduk di bangku kelas 6 SD.
Pendataan pendatang dilakukan petugas di pintu dekat keluar stasiun. Pendatang diminta memperlihatkan KTP untuk kemudian didata dan diberi sosialisasi. Setelah didata, KTP dikembalikan dan pemudik bisa pulang ke tujuan masing-masing.
Abdul Rosyid (30) asal Banjar yang bekerja sebagai sopir Cicaheum Ciroyom juga mengaku kaget saat dicegat petugas. Tadi sempet kaget karena baru aja dateng tapi dicegat petugas. Tapi akhirnya saya bisa bernafas lega karena saya bawa KTP," kata Abdul yang tinggal di Jalan jalaprang sudah di Bandung.
Sementara untuk 5 orang yang tak punya KTP mereka didata asal tempat mereka, tujuan datang ke Bandung, lokasi kerja dan pertanyaan lainnya. Hingga saat ini pendataan dan operasi masih dilakukan.
(tya/ern)










































