"Secara keseluruhan, ada upaya untuk untuk memaksakan pemilukada menjadi 1 putaran," ujar Sekretaris Tim Pemenangan nomor urut 8 Ridho-Darus, Gungun Gunawan usai pertemuan di Mapolres Bandung Jalan Cipatik, Kabupaten Bandung, Selasa (31/8/2010).
Apalagi, kata dia, sikap Bupati Bandung Obar Sobarna yang seolah-olah menjadi juru bicara KPU dan tim sukses pasangan nomor urut 7 yaitu Dadang Naser-Deden Rumaji (DNDR) di tayangan salah satu stasiun TV.
"Di berita itu, dia terkesan menjadi jubir KPU dan tim sukses nomor 7," tuturnya. Dalam tayanyan TV tersebut Obar memberi statement terkait kemenangan sementara pasangan DNDR.
Berdasarkan perolehan sementara, pasangan DNDR mendapatkan suara paling tinggi nyaris 30 persen. Meninggalkan saingan terberatnya, Ridho-darus yang memperoleh suara 21,30 persen.
Tak hanya tim pemenangan Ridho-Darus saja yang merasa adanya paksaan pemilu 1 putaran. Tim advokasi pasangan nomor urut 5 Yadi Srimulyadi-Rusna Kosasih, Toni Permana juga mencurigai ada pihak yang memang ingin memaksakan pemilu jadi 1 putaran.
"Kita curiga ada pihak lain entah itu secara kelembagaan atau salah satu kandidat yang ingin memaksakan pemilukada jadi 1 putaran," kata Toni di lokasi yang sama.
Toni menuturkan, dalam evaluasi internal, hingga saat ini calon jagoannya menempati posisi 4 meskipun penghitungan belum selesai.
Ia pun menegaskan, laporan ke polisi bukan karena persoalan kalah atau menang tapi lebih pada proses pelaksanaan pemilukada.
"Kita bukan mempersoalkan kalah atau menang. Kalah dan menang itu hal biasa, tapi jika prosesnya fair, kita akan menerima apapun hasilnya," tuturnya.
(tya/ern)











































