"Lihat saja di Braga. Banyak kaligrafi yang dijual disana. Dan kaligrafi disana khas Indonesia yang sayangnya tidak sesuai dengan aturan baku kaligrafi," ujar Abu Djumhur Murnasim (46), seniman kaligrafi saat ditemui detikbandung disela-sela acara Festival Seni Budaya Masjid Indonesia di Taman Budaya Dago.
Prihatin dengan kondisi tersebut, Abu Djumhur berniat untuk mengumpulkan seniman kaligrafi Bandung. Dia berencana akan membuat wadah sehingga bisa meminimalisir peredaran kaligrafi yang tidak sesuai standar kaligrafi.
"Saya berpikir untuk membuat rumah kaligrafi. Saya ingin kaligrafi-kaligrafi yang beredar itu memang sesuai standarnya," ungkap pria berkacamata ini, Sabtu (21/8/2010).
Diakui oleh Abu Djumhur, kaligrafi buatan Indonesia terkenal hingga ke luar negeri. Karenanya dia berharap jangan sampai ketika orang luar negeri yang mengerti aturan kaligrafi melihat kaligrafi karya orang Indonesia malah kecewa karena kaligrafinya asal-asalan.
"Nantinya kaligrafi Indonesia akan dicap jelek," tegasnya.
Sebagai permulaan, dalam Festival Seni Budaya Masjid Indonesia panitia menggelar acara House of Calligraphy. Acara ini memamerkan 30 kaligrafi karya seniman kaligrafi dari Bandung.
Ketua Panitia Festival Seni Budaya Masjid, Cecep Akhmad Hidayat, mengakui kalau gagasan adanya House of Calligraphy juga untuk memajukan kaligrafi di Jabar.
"Saya terinspirasi untuk membuat ini karena banyak wisatawan dari mancanegara yang datang ke Bandung hanya untuk beli Kaligrafi. Nah, saat kembali ke negaranya, ketika dilihat sama yang mengerti kaligrafi, kalau ia melihat kaligrafi kita ngga beres, tidak sesuai standarnya, kan tidak bagus," paparnya.
Cecep pun mendukung dibentuknya satu wadah untuk bisa memperbaiki kualitas kaligrafi yang ada.
"Makanya kita buat satu wadah untuk melihat apakah kaligrafi-kaligrafi yang dibuat sudah sesuai aturan atau belum," katanya.
Rencananya, wadah tersebut akan menggunakan nama yang sama dengan acara yang digelar hingga tanggal 28 Agustus 2010 ini.
"Nantinya, House of Calligraphy rencananya akan dibangun di daerah Nilem, Buah Batu. Yang diselenggarakan sekarang, masih masuk dalam acara Festival Seni Budaya Masjid saja. Tidak mungkin kan begitu Festival ini selesai, House of Calligraphy juga selesai," kata Abu Djumhur menutup pembicaraan.
(afz/afz)











































