Generasi zaman sekarang banyak yang tidak tahu bagaimana orang tuanya dulu mencari hiburan. Dan layar tancap, dulu jadi primadona tersendiri di hati masyarakat sebelum hadir generasi VCD, DVD, atau bioskop dengan fasilitas serba canggih lainnya.
Dan sosok Yoyo Budiman (60), mungkin jadi generasi pengusaha layar tancap terakhir di Bandung. Ketua Pertunjukan Film Keliling Indonesia (Perfiki) Cabang Bandung itu masih menyimpan rapi setumpuk sejarah film keliling dari kampung ke kampung atau daerah yang pernah digelutinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang sudah nggak aktif lagi melakukan pertunjukan layar tancap keliling," katanya, saat ditemui di rumahnya.
Ko Yong, sapaan akrabnya, mengaku terpaksa menyimpan semua kenangannya dan menanggalkan profesinya itu. Sebab, layar tancap sudah terpinggirkan oleh teknologi yang semakin maju.
"Sekarang masyarakat sudah banyak yang memilih beli VCD atau DVD ketimbang nonton layar tancap," ungkapnya.
Hal itu mulai terjadi sejak krisis moneter sekitar 1997 lalu. Saat itu, VCD mulai merambah ke Indonesia dan pelan-pelan mematikan usahanya. "Setelah itu, tidak ada lagi yang menyewa pertunjukan layar lancap sampai sekarang," terangnya.
Ko Yong pun terpaksa 'memarkirkan' gulungan rol filmnya. Sebab, tak ada lagi masyarakat yang berhasrat menyaksikan layar tancap. Orang saat ini lebih memilih pergi ke bioskop atau membeli kepingan DVD untuk menyaksikan beragam film.
"Mungkin juga orang sudah gengsi kalau nonton layar tancap. Ya, karena kemajuan teknologi juga semakin canggih," tandasnya.
(ors/tya)










































