Ditelepon Balik, Peneror Tak Mau Angkat HP

Ketua Fortusis Diteror

Ditelepon Balik, Peneror Tak Mau Angkat HP

- detikNews
Jumat, 06 Agu 2010 13:47 WIB
Ditelepon Balik, Peneror Tak Mau Angkat HP
Bandung - Hanya sekejap saja ancaman pada Koordinator Forum Orang Tua Siswa (Fortusis) Dwi Subawanto diutarakan, kemudian sambungan telepon terputus. Karena masih penasaran, Wanto pun menelepon balik orang yang mengubunginya itu. Namun dari 3 nomor yang meneleponnya, tak ada satu pun yang mengangkat telepon.

"Saya penasaran karena teleponnya putus begitu saja seperti belum selesai, makanya saya telepon balik. Pas ditelepon, semuanya nyambung kok, tapi semua nggak diangkat terus," ungkap Wanto saat dihubungi detikbandung via ponselnya, Jumat (6/8/2010).

Menurut Wanto, ancaman lewat telepon risikonya lebih kecil daripada mengancam via pesan singkat atau SMS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau lewat SMS kan jadinya ada bukti, makanya mungkin lebih milih mengancam lewat telepon," katanya.

Wanto pun mengaku tak berniat mengirimi SMS pada ketiga pengancamnya itu. "Mereka saja nggak mau kirim SMS, saya juga nggak mau kalau nanti diputar balikkan dikira saya yang memulai," tuturnya.

Jumat (6/8/2010) pagi, Wanto mendapatkan ancaman via telepon agar dirinya tak lagi mempersoalkan pungutan yang dilakukan sekolah. Ancaman tersebut ia terima tiga kali.

Isi ancaman tersebut meminta Wanto tak lagi memperpanjang kasus pungutan uang sekolah yang dilakukan sejumlah sekolah di Kota Bandung. "Kalau kamu masih ingin hidup, jangan dikorankan lagi soal pungutan. Kasihan Pak Wali (Wali Kota-red). Awas!" ucap Wanto menirukan perkataan orang yang mengancamnya.

Dalam berita sebelumnya, Koalisi Pendidikan Kota Bandung (KPKB) menemukan berbagai pelanggaran saat proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Potensi pelanggaran yang dilakukan pihak sekolah, seperti pungutan terhadap orangtua siswa, ternyata tak sedikit. Angkanya diprediksi bisa mencapai Rp 26 miliar.

KPKB terdiri dari sejumlah organisasi peduli pendidikan, diantaranya Fortusis, Forum Aksi Guru Independen (FAGI), dan Lembaga Advokasi Pendidikan Kota Bandung.

(tya/ern)


Berita Terkait