Nani (25), warga Kampung Panundaan RT 02 RW 13 Desa Panundaan Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung, mengungkapkan banyak orangtua mendampingi anaknya yang bersekolah SD. Padahal, hal itu jarang dilakukan sebelum SMS berantai penculikan beredar.
"Sekarang banyak ibu-ibu dan orangtua yang mendampingi saat anaknya pergi dan pulang sekolah," ujarnya saat dihubungi detikbandung, Senin (26/7/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setiap berangkat sekolah, para tetangganya mengantarkan anaknya sekolah. Dan tiap pulang, mereka pasti menjemput anaknya.
"Katanya mereka takut anaknya diculik dan diambil organ tubuhnya. Makanya mereka antar jemput anaknya yang masih sekolah di SD," ungkapnya.
Selain SMS, kondisi itu diperparah dengan beredarnya kabar dari mulut ke mulut.
"Ada yang bilang di daerah anu ada sekian anak yang diculik. Kabar itu dari beberapa daerah, tapi masih di daerah Ciwidey," terangnya.
Berikut isi pesan singkat berbahasa Sunda yang disebar melalui nomor tak dikenal itu: "Kudu pabeja2 culik gs nepi ka cidatar jg sinangsari gs menang bdk 4 anu di cokotna ati, mata, ginjal, culikna ka2ra benang 1 anu diaburkena aya 700 jlma. culikna aya awe2 aya la2ki. kolot budak kirimken kasadayana anu gaduhen hp ieu serius ti pa lurah cidatar mangga sebarkn sms na."
Jika diartikan dalam Bahasa Indonesia isi pesan singkat tersebut yaitu: "Harus saling memberi tahu, penculik sudah sampai ke daerah Cidatar dan Sinangsari (daerah Ciwidey-red). Sudah ada empat anak diculik dan diambil bagian hati, mata, dan ginjal. Penculiknya baru ditangkap 1, yang disebarkan 700 orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Kepada orangtua sebarkan kabar ini ke semua orang yang punya handphone. Serius dari Lurah Cidatar (kawasan Garut, red), silahkan sebarkan SMS-nya."
(ors/tya)











































