"Setelah kejadian runtuhnya kantor RW dulu, kami tidak memiliki kantor RW dan ruang serbaguna," ujar Masnu (55), Ketua RW 9 saat ditemui di rumahnya, Selasa (20/7/2010).
Masnu mengaku sejak ambruknya kantor RW tersebut, para pengurus RW kesulitan mencari tempat berkumpul. "Selama ini kalau kumpul selama poskamling," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut dituturkan Masnun, untuk melakukan pembongkaran rumah di RW 09 ada sekitar 20 orang warga yang ikut membantu. Namun mereka semua tak dibayar oleh Pemkot bandung yang memerintahkan pembongkaran.
"Warga yang membongkar dapat uang dari menjual genteng, bahan yang bisa dipakai," tutur Masnu.
Pantauan detikbandung, masih banyak warga yang terlihat membongkar bangunan dengan menggunakan perkakas bangunan. Terlihat juga beberapa orang yang sedang mengangkut genteng dan kayu-kayu.
(tya/ern)











































