"Hari ini akan saya suruh pantau, kita juga akan mengecek ke pengusaha ayam," ujar Dede kepada wartawan saat ditemui di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Selasa (22/6/2010).
Dede menambahkan, penyebab kenakan harga ayam bisa karena adanya spekulan ayam yang diduga dilakukan distributor, dengan menyimpan day old chick (DOC) atau ayam ternak dan juga telurnya. Selain itu ditambahkan Dede, bila ada kenaikan listrik, biasanya pasokan ayam ditahan dulu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mogoknya sejumlah pedagang ayam untuk berjualan, menurut Dede itu karena tidak ada yang membelinya. Sementara turun naiknya harga adalah proses lumrah dalam perdagangan.
Lebih lanjut dituturkan Dede, yang harus dijaga adalah peternak ayam agar mendapat keuntungan. Apalagi, Dede menyebut, Provinsi Jabar selama ini menjadi penyuplai ayam sebesar 40 persen untuk skala nasional.
"Pemakan ayam lebih banyak dari pemakan daging lainnya. Provinsi Jabar mendapat omzet dari ayam sebesar Rp 4 hingga 5 triliun pertahun. Maka itu, peternak ayam ini perlu dijaga. Apalagi Jabar ini adalah penyuplai ayam terbesar di Indonesia," tutur Dede.
Sebagai pengganti asupan protein yang selama ini diperoleh dari daging ayam, menurut Dede masyarakat dapat memilih ikan. "Kalau harga ayam belum stabil dan enggan membeli ayam, lebih baik makan ikan dulu, tapi 1-2 hari diharapkan dapat stabil," harapnya.
(tya/ern)











































