Hal tersebut diungkapkan Rektor ITB Akhmaloka saat dihubungi detikbandung melalui telepon selularnya, Selasa (8/6/2010).
"Kalau dia (Zul-red) melanggar lagi aturan yang sudah diputuskan, ya bisa dikeluarkan," ujar Akhmaloka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama menjalani skors selama 3 semester, Zul juga harus menjalani kerja sosial dan profesi di Kampus ITB. Jenis pekerjaan dan waktu kerja disebut Akhmaloka akan diatur oleh Lembaga Kemahasiswaan ITB.
"Zul kan pintar, bisa saja dia diminta menjadi tutor atau lainnya," sebutnya.
Selain itu, Zul juga diberi fasilitas dan kewajiban untuk menjalani konsultasi psikologi. Hal itu dilakukan agar Zul menjadi mahasiswa yang lebih baik lagi.
"Kita kan tidak mau hanya memberi hukuman saja, tapi juga harus membuat mahasiswa lebih baik lagi," imbuh Akhmaloka.
Sementara saat disinggung apakah program Honor yang seblumnya didapat Zul akan berpengaruh, menurut Akhmaloka Zul masih tetap berkesempatan mendapatkan program tersebut. Dijelaskan Akhmaloka, program Honor merupakan program unggulan di ITB, yang terbagi ke dalam 2 kategori, yaitu fast track dan non fast track.
Untuk Program Honor fast track dapat dimanfaatkan mahasiswa yang ingin melanjtkan S2 nya di ITB dengan waktu studi yang ditentukan. "Kalau yang non fast track, mahasiswa berprestasi akan diberi sertifikat Honor saat lulus, itu masih bisa didapat Zul jika dia bisa menunjukkan prestasinya," tuturnya.
Pada 2 Mei 2010 lalu, usai pertandingan Persib vs Persipura, Zul menuliskan status di facebook miliknya yang bernada SARA. Hal ini memicu reaksi keras dari warga Papua di Bandung. Keesokan harinya, Zul memposting permintaan maaf atas statusnya yang menyinggung warga Papua itu.
Di beberapa blog dan forum diskusi, kasus rasis ini menjadi pembicaraan hangat. Akun facebook mahasiswa ITB itu saat ini sudah tidak aktif. Namun screenshoot status facebook tersebut telah beredar luas di jagad maya.
(tya/ern)










































