Profesi yang sudah sangat langka. Terutama ketika era digitalisasi melalui telepon genggam khususnya terus menggempur. Jasa afdruk foto menjadi tidak begitu diperlukan.
Apalagi hanyalah tukang afdruk sederhana seperti Toto yang juga harus bersaing dengan studio-studio foto yang mapan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dulu, dipaparkan Toto tukang afdruk foto di kawasan Kosambi bisa sampai 10 orang. Tapi ketika konsumen makin menurun satu per satu para tukang afdruk foto beralih profesi.
"Sejak ada kamera di hape, orang mulai jarang afdruk foto," jelas pria kelahiran Tasikmalaya ini.
Pendapatan pun kian tak jelas. Jika dulu bisa meraih penghasilan cukup lumayan dari Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu, sekarang diakui Toto turun drastis.
"Sekarang mah paling juga Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu," keluh Toto.
Konsumen pun hanya mencetak dalam jumlah sedikit, tidak seperti dulu.
Namun Toto masih enggan untuk beralih profesi seperti teman-temannya yang lain. Pria yang hanya menamatkan pendidikan sampai sekolah dasar ini mengaku tak memiliki keahlian lain.
Untuk menopang kehidupan keluarganya di Tasikmalaya, Toto bekerja serabutan di kantor pos Kosambi sebagai tukang pembungkus tiket.
"Ah, saya mah tidak punya keahlian apa-apa lagi, ini saja," ungkapnya.
(ema/ern)










































