Hal tersebut diungkapkan Direktur Humas dan Alumni ITB, Maria Singgih Wibowo, saat menggelar jumpa pers di Gedung Rektorat, Jalan Tamansari, Selasa (18/5/2010).
"Yang bersangkutan menyesal dan khilaf. Itu diakuinya sebagai pendapat pribadi," jelas Maria.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya atau orang lain pasti tersinggung dengan kalimat seperti itu. Namun sekali lagi, apa yang dilakukan mahasiswa bersangkutan bukan mewakili kampus," terang Maria.
Ia menambahkan, agar permasalahan tidak berlarut-larut, maka pihak ITB memediasi kedua belah pihak yaitu Dzulfikry dan perwakilan warga Papua di Bandung.
"ITB hanya sebagai mediasi saja. Karena mahasiswanya dari ITB. Kami hanya membantu untuk menyelesaikan masalah," ujarnya.
Meski begitu, ITB tetap melakukan sidang disiplin terhadap Dzulfikry. Sebab, lanjut Maria, apa yang diperbuat Dzulfikry sudah melanggar norma umum. "Perilaku tersebut tidak baik dilakukan seorang mahasiswa," paparnya.
Sebenarnya permintaan maaf sudah disampaikan Dzulfikry dalam facebook miliknya, sehari setelah dia memposting ucapan yang menyinggung masyarakat Papua. Inilah isi permintaan maaf Dzulfikry: "Atas kesalahan status saya kemarin, maka saya meminta maaf atas kesalahpahaman ini. Mohon pengertian dari semua pihak yang merasa dirugikan ataupun yang merasa risih. Terimakasih banyak!'.
Penelusuran detikbandung, di beberapa blog dan forum diskusi, kasus rasis ini menjadi pembicaraan hangat. Akun facebook mahasiswa ITB itu saat ini sudah tidak aktif. Namun screenshoot status facebook tersebut telah beredar luas di jagad maya.
(bbp/ern)











































