Potret Nyai Ontosoroh di Atas Pentas

Potret Nyai Ontosoroh di Atas Pentas

- detikNews
Senin, 10 Mei 2010 15:19 WIB
Potret Nyai Ontosoroh di Atas Pentas
Bandung - "Kita telah melawan, nak, nyo. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya,”

Demikian petikan dialog yang diucapkan Nyai Ontosoroh dalam pertunjukan 'Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh atau They Called Me Nyai Ontosoroh' yang digelar di Selasar Sunaryo Art Space, Jumat (7/5/2010) lalu.

Sebuah 'pesan perlawanan' yang ingin disampaikan Pramoedya Ananta Toer lewat novelnya 'Bumi Manusia'. Diucapkan melalui seorang tokoh inti dalam novel tersebut yaitu Nyai Ontosoroh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maka dari tokoh utama Nyai Ontosoroh pertunjukan sekitar satu setengah jam ini dimulai. Penokohan Nyai Ontosoroh yang diperankan oleh Sita Nursita (RSD) ini mengambil porsi cerita yang lebih banyak dari pemain lain.

Tentunya, karena alur yang digunakan oleh Wawan Sofwan adalah flash back. Nyai Ontosoroh membuka memori kehidupannya satu per satu yang bersumber dari sebuah koper kenangan dari ibunya sebelum dia dijual kepada orang Belanda.

Kisah pun dimulai dari mulai dia menjadi gundik dari Tuan Mellema yang diperankan oleh Willem Bevers. Sanikem, nama Nyai Ontosoroh saat itu, masih begitu lugu. Tapi Tuan Mellema membentuknya menjadi wanita tangguh. Memberinya buku-buku, mengajarkan bahasa Belanda dan ilmu manajemen perusahaan. Sampai akhirnya dia memimpin perusahaan Tuan Mellema yang kemudian membuatnya dipanggil Nyai Ontosoroh.

Bagi pembaca 'Bumi Manusia' sudah pasti akan bisa menebak alur cerita selanjutnya. Dengan penekanan konflik cerita antara kisah percintaan anaknya Annelies (Agni Melati) dan Minke (Bagus Setiawan) yang beradu dengan perbedaan budaya antara negara Timur dan Barat.

Sebagai versi 'Nyai Ontosoroh' yang juga diproduseri oleh Faiza Mardzoeki dan sutradara Wawan Sofwan, 'Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh' bisa menampung pesan yang sama meski dengan waktu yang lebih minim yaitu satu setengah jam. Di mana 'Nyai Ontosoroh' menghabiskan durasi yang cukup lama untuk sebuah pertunjukan teater.

Faisal Mardzoeki cukup piawai memangkas buku setebal 535 halaman menjadi kisah dan dialog-dialog cantik yang tidak bertele-tele. Meskipun akhirnya harus agak meniadakan pribadi Minke yang diceritakan cukup kuat di 'Bumi Manusia'.

Petunjukan diracik dengan apik. Setting tempat di Bale Handap Selasar Sunaryo yang tradisional cukup mendukung situasi kehidupan di masa lampau. Begitupun
dengan film-video garapan Ariani Darmawan dan Yudith Christianto turut mempertegas warna cerita.

Sayang, sesekali konsentrasi penonton terganggu dengan tekhnik pencahayaan yang sepertinya kurang tepat. Misalnya ketika sedang ada dialog, tiba-tiba lampu
panggung redup.

Sebagai tokoh yang disorot, karakter Nyai Ontosoroh dirasa kurang menjelma. Entah apakah sosok Sita yang nampak lebih lembut dari apa yang digambarkan
tentang Ontosoroh dalam Bumi Manusia yang tegas dan keras.

Tapi secara keseluruhan, 'Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh' adalah tontonan yang sangat apresiatif. (ema/ern)


Berita Terkait