"Ah biasa itu mah, udah sering diusir. Maklum we lah," ujarnya sambil tertawa. Karena terbiasa diusir satpam, Tarman pun punya taktik tersendiri, saat diusir, biasanya ia mencari tempat sepi untuk duduk.
"Kalau diusir cari tempat duduk. Kalau satpamnya enggak ada ngider lagi. Mungkin disangkanya saya pengemis," ceritanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulillah enggak pernah kelaparan, suka ada weh yang ngasih. Tapi da bapak mah enggak minta kayak pengemis, malah mau bayar, tapi enggak usah," katanya," ujar Tarman sambil megusap-usap perutnya. "Tuh perut bapak mah gendut, pinuh ku makanan," candanya.
Satu minggu sekali, Tarman pulang ke kampungnya di Majalaya. Setiap harinya, Tarman menginap di Masjid Agung Alun-alun."Uih saminggu sakali, lebar ongkos mun uih tiap hari mah," tutur Tarman yang menggunakan bis atau angkot jurusan Majalaya saat pulang.
Tak banyak bawaan dalam tasnya yang bercorak biru dan kuning, hanya pakaian ganti dan handuk. "Bawa baju mah hiji weh neng, yang dipakai sama buat ganti, engke dicuci di Masjid Agung," ujarnya.
Dirinya pun tidak pernah merasa dingin saat terpaksa harus tidur di pinggir jalan atau pinggiran Masjid Agung. "Ah tidak, kan pakai simbut, haneut weh bapa mah," ungkapnya.
(avi/ern)











































