Seperti Sekolah Sepak Bola Kota Bandung (SSB-Kotab). Penanggung Jawab SSB Kotab Rannu Kaznu menyatakan pihaknya menolak pembangunan trek sepatu roda tersebut.
"SSB Kotab yang paling menolak. Bukan dalam artian tidak suka pembangunan jalur sepatu roda. Tapi kita sudah bertahun-tahun latihan di Lapangan Saparua, kalau ada renovasi atau pembangunan apapun, secara etika harusnya dikasih tahu dulu atau diajak duduk bersama," ujar Rannu saat dihubungi detikbandung, Rabu (28/4/2010).
Minimal, lanjut Rannu, kalaupun tidak dianggap, pemerintah memberikan surat resmi kepada mereka. Dengan begitu menurut Rannu pihaknya bisa mengantisipasi dengan mencari lapangan baru.
Dikatakan Rannu, bukan berarti pihaknya tidak mendukung Porda. Namun dia mempertanyakan kenapa pembuatan jalur sepatu roda harus menggusur lahan yang digunakan secara aktif.
"Apakah adil atau bijak kalau lapangan yang sudah ada digusur dan diganti jadi lapangan sepatu roda. Harusnya pakai lahan yang baru," ujar Rannu.
Kalaupun digusur, Rannu berharap pemerintah memberikan solusi dan jangan asal gusur saja, karena pihaknya juga memiliki tanggung jawab pada anak didiknya di SSB Kotab.
"Banyak orang tua yang menanyakan di mana latihan sekarang, bagaimana kelanjutannya. Mereka kan iuran juga. Kita jadi terlunta-lunta tidak ada tempat latihan," tutur Rannu. Padahal, sambung Rannu, SSB Kotab harus sering latihan karena akan mengikuti turnamen.
Namun Rannu menyadari daya tawarnya sebagai penyewa lemah. "Kami tidak punya kekuatan apa-apa, kecuali mengeluh. Kita baru bicara dengan pengelola saja, belum sampai ke Disdik," ucapnya.
(ema/ern)











































