Soeroso menyatakan, dirinya belum yakin penggantian jalan aspal ke jalan batu itu, telah melalui proses studi yang benar. "Semestinya sebelum dilakukan pergantian harus ada studi terlebih dahulu. Apakah ini sudah dilakukan dengan benar, kita tidak tahu," tuturnya dalam seminar 'Pelestarian Kawasan Kota Lama' di Gedung Merdeka, Selasa (20/4/2010).
Dengan kondisi Jalan Braga yang kerap rusak setelah diganti dengan batu andesit, menurutnya harus ada peninjauan ulang. "Kalau sekarang jadi rusak ya dicari di mana salahnya," terang Soeroso.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut ia menuturkan, cagar budaya di seluruh Indonesia pengelolaannya tergantung lokasinya. Bisa saja dikelola Pemkot atau Pemkab, Pemprov atau Pemerintah pusat.
Namun menurutnya, bila Pemkab dan Pemkot tidak mampu mengelola, bisa dikembalikan ke institusi yang lebih tinggi. "Kalau Pemkot tidak sanggup ya kembalikan ke Pemprov. Kalau Pemprov tidak mampu kembalikan ke pusat," jelasnya.
Namun begitu, jila dikembalikan ke institusi yang lebih tinggi akan ada konsekuensi. Yaitu, akan ada pengurangan anggaran dan juga SDM untuk pengelolaan cagar budaya di bawah Pemkot, Pemkab atau Pemprov.
"Konsekuensinya anggarannya yang dikurangi. Tapi siapa yang mau dikurangi. Jadi jangan sampai duitnya mau diambil, ngurusnya enggak mau. Kalau ditanya, jawabnya itu urusan pusat, tidak boleh seperti itu," sindirnya.
(ern/ern)
