"Kayaknya di mana-mana penumpang atau pengguna selalu menjadi korban. Seharusnya bukan dihapuskan, tetapi manajemennya yang harus diperbaiki," ujar Gunung Bernhard (35), pria asal Cawang, Jakarta, ketika ditemui di depan loket penjualan tiket di Stasiun Bandung, Jalan Kebon Kawung, Jumat (16/4/2010).
Apalagi, kata Bernhard, kereta api merupakan angkutan massal. Sangat banyak masyarakat yang dipengaruhi kehidupannya oleh keberadaan KA Parahyangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada disampaikan Gilang Ginanjar (20), mahasiswa STT Telkom asal Bekasi. Sejak kuliah di Bandung dua tahun terakhir, ia rutin menggunakan KA Parahyangan.
"Naik kereta lebih nyaman dibanding kendaraan lewat tol. Kalau kereta bisa santai. Kalau bosan bisa jalan-jalan. Kelebihan lain, tiketnya terjangkau untuk mahasiswa," ujar Gilang.
Selain itu, ia pun lebih memilih naik kereta karena tempat tinggalnya di Bekasi dekat dengan stasiun. "Kalau turun di Stasiun Bekasi, dekat dengan rumah saya," tuturnya.
(lom/lom)











































