Hal itu ia lakukan untuk memuaskan dirinya berenang di pemandian bersejarah itu, sebelum akhirnya berubah jadi bangunan pencakar langit.
Sang kakek bernama Iwan (60), seorang warga keturunan yang tinggal di sekitaran Tegallega itu mengaku hampir setiap hari datang ke Pemandian Tjihampelas. Sama dengan anak-anak sekitar, lelaki paruh baya juga merasa senang berenang di tempat itu. Meski kini, kondisi sekitarnya tinggal puing-puing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kolam renang di Bandung memang banyak. Tapi kebanyakan pakai kaporit. Kalau disini kan asli dari gunung," tambahnya.
Selidik punya selidik, kolam ini juga memiliki kenangan tersendiri bagi Iwan. Menurutnya, ia telah berenang di kolam Pemandian Tjihampelas sejak tahun 1960-an. Bahkan Iwan selalu membawa sebuah foto ia dan teman-temannya semasa sekolah saat berenang di tempat itu.
"Lihat ini, ini tahun 1970. Teman-teman saya banyak yang sudah mati," tutur Iwan sambil menunjukkan fotonya.
Ia pun menyayangkan kolam renang yang sudah dianggap cagar budaya itu akan berubah menjadi rusunami. "Sayang sekali yah. Makanya mumpung masih bisa berenang disini, saya akan manfaatkan waktu yang ada," tambahnya.
Sebelumnya, kolam renang ini sempat tak berfungsi, setiap hari Iwan datang untuk
melongok kolam tersebut. Dari rumahnya, Iwan menggunakan angkutan umum untuk sampai ke Cihampelas.
Waktu masih kosong saya rajin lihat, apa ada airnya atau tidak," katanya sambil tertawa.
Jika nanti kolam renang tersebut tak ada lagi, Iwan menyebut akan mencari tempat renang lainnya yang berasal dari air gunung asli. "Kalau sudah tidak bisa berenang disini, saya mau berenang di Gunung Puntang, Kampung Ganjar Sari Padalarang atau di Cimalaka Sumedang," pungkasnya. (tya/dip)










































