Kolam berukuran 2 meter kali 5 meter setinggi setengah meter itu selalu ramai oleh belasan anak yang berenang pada siang hingga sore hari.
Dituturkan Ketua RT 03/RW 05 Kelurahan Cipaganti Kecamatan Coblong, Olin, kolam
renang tersebut masih sering digunakan warga sekitar sebagai tempat hiburan murah meriah.
"Setiap sore, dikolam itu masih banyak anak-anak yang berenang. Lumayan lah hiburan murah, enggak usah bayar," ujarnya kepada detikbandung, Rabu (14/4/2010).
Pantauan detikbandung, belasan anak tampak begitu riang berenang di kolam tersebut dengan pancuran dari patung menyerupai Dewa Zeus yang membawa trisula. Air yang mengalir tersebut tampak bening dan bersih.
Anak-anak berenang seadanya, hanya menggunakan pakaian dalam atau pakaian biasa. Bahkan ada yang tak menggunakan sehelai kainpun
Saeful (10) misalnya, dirinya mengaku hampir setiap hari berenang di kolam tersebut. Bahkan ia dapat berenang hingga 2 kali dalam sehari. "Setiap hari suka berenang disini. Enak, gratis lagi," ujarnya usai berenang.
Ia biasa berenang sekitar pukul 13.00 atau sore hari sekitar pukul 16.00 WIB. "Ramai, berenangnya banyak teman," katanya.
Begitu juga dengan Fajar (12), yang seringkali memanfaatkan kolam tersebut untuk berenang. "Kalau nanti kolamnya udah ngga ada, ya berenangnya harus ke Karang Setra. Tapi ya bayar," tuturnya yang merasa sedih kolam tersebut akan berganti menjadi rusunawa.
Pemandian Tjihampelas yang berada di RW 5 Kelurahan Cipaganti, Kecamatan Coblong, kini benar-benar tinggal kenangan. Kolam renang pertama di Indonesia yang dibangun sejak 1902 itu kini sudah luluh lantak. Rencananya, di bekas kolam renang yang berada di dekat Mal Cihampelas Walk itu, akan dibangun sebuah rusunami bernama The Jarrdin Cihampelas (tya/dip)











































