Ada yang terpaksa melenggang di trotoar jalan hingga membenturkan mobil ke portal.
"Misalnya di suatu kawasan arus lalu lintasnya padat, maka separuh mobil terpaksa berjalan di trotoar jalan. Pernah saat ke TKP di lingkungan komplek perumahan, mobil tak bisa maju karena tertahan portal. Akhirnya, ya ditabrak saja portalnya," jelas salah satu pengemudi di Dinas Kebakaran (Diskar) Kota Bandung, Yadi Mulyadi (42).
Pengalaman lain, lanjut Yadi, suatu waktu mobil yang dibawanya mampet karena bagian kap mobil tertahan gapura di mulut jalan. "Apa boleh buat, karena enggak ada jalan lain, gapura itu ditabrak!" cerita Yadi.
Menurut Yadi, mengemudikan mobil damkar sama dengan mobil jenis sedan. Bila melihat kondisi fisik mobil, tentunya kokoh dan ribet. "Enggak kok, enggak berat. Ringan malahan," akunya.
Kadiskar Kota Bandung Prijo Soebiandono mengatakan, hambatan pasukannya berjibaku menuju TKP memang menjadi 'bumbu' pekerjaan. Malah sebagai pimpinan, dirinya tak melarang bila hal tersebut terpaksa dilakukan.
"Saya mengalami sendiri. Waktu itu ada kebakaran di komplek perumahan. Saat mobil menuju TKP, ternyata banyak portal. Saya pun perintahkan pengemudi untuk menabrakan mobil ke portal. Daripada kami terlambat dan api keburu membesar," tuturnya.
Menurut Prijo, mobil damkar beserta personel menargetkan waktu 15 menit tiba di lokasi kebakaran. Respon cepat ini untuk jarak tempuh 3,5 kilometer di dalam Kota Bandung.
Saat TKP siang hari, mobil melaju dengan kecepatan 60 hingga 70 kilometer. Prijo pun mengimbau agar para pengendara untuk meminggirkan kendaraannya saat mobil damkar melintas.
"Kalau terjadi kebakaran, entah itu kendaraan umum, pribadi atau milik pejabat, maka wajib menepikan kendaraannya. Ada satu yang tak bisa kami terobos, yaitu di perlintasan kereta api saat kereta lewat," tutup Prijo. (bbp/dip)











































