Namun, Sekretaris Dinas Pemakaman dan Pertamanan (Diskamtam) Kota Bandung Arif Prasetya menyayangkan sikap pengembang yang tidak melaporkan kejadian penebangan ini.
"Seharusnya pengembang melaporkan ke kita (Distam-red), jadi kita tahu dan dapat
memberikan arahan," ujar Arief saat dihubungi detikbandung melalui telepon selular, Selasa (13/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari penuturan Arief, di lokasi bekas pemandian Tjihampelas tersebut banyak terdapat pohon. Di antaranya pohon bambu, dan beberapa pohon pelindung seperti pohon beringin, angsana, dan felicium.
"Yang banyak ditebang masyarakat itu pohon bambunya. Mungkin untuk dimanfaatkan tapi saya tidak tahu untuk kepentingan apa. Kalau yang pohon pelindung itu usianya sudah tua-tua, soalnya sudah besar. Di sana juga ada pohon yang sudah mati, seperti angsana," ujar Arief.
Diberitakan sebelumnya, penebangan pohon di areal lahan bekas pemandian Tjihampelas bukan dilakukan oleh pengembang yakni PT Kagum Karya Husada. Namun pohon tersebut ditebang oleh warga sekitar lokasi. Nantinya di lahan tersebut
akan dibangun Rusunami The Jarrdin Cihampelas.
Pemandian Tjihampelas yang berada di RW 5 Kelurahan Cipaganti, Kecamatan Coblong, kini benar-benar tinggal kenangan. Kolam renang pertama di Indonesia yang dibangun sejak 1902 itu kini sudah luluh lantak.
Rencananya, di bekas kolam renang yang berada di dekat Mal Cihampelas Walk itu, akan dibangun sebuah rusunami bernama The Jarrdin Cihampelas.
(avi/ema)











































