Menurut salah seorang warga, M. Sarbini (60), kejadian ambrolnya kirmir ia ketahui sekitar pukul 08.30 WIB. Saat kejadian, Sarbini tengan berada di mulut gang yang berada di Jalan Pungkur Belakang Pegadaian.
"Saya diberitahu tetangga, dia tanya kenapa saya masih di sini (mulut gang)," tutur Sarbini, saat ditemui di depan kediamannya yang termakan ambrolan kirmir, Sabtu (27/3/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan hanya Sarbini, bagian belakang rumah yang milik Sri Nenah (56) dan Imas Sumarni (57) juga ikut ambrol. "Saya sempat lihat Bu Imas menggantung jemuran tapi sudah lenyap, begitu juga perabot dapur, lemari dan kompor gasnya," kata Sarbini.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Warga sekitar yang rumahnya dekat dengan ambrolan kirmir tengah berada di luar rumah. Dari pantauan, rumah milik Imas dipasangi bambu untuk menyangga ambrolan atap rumah yang menggelayut agar terhindar dari ambrolan yang lebih parah.
Peristiwa mabrolnya kirmir adalah untuk sekian kalinya di Kota Bandung. Awal bulan lalu, kirmir di Kelurahan Pasir Impun ambrol akibat hantaman keras air yang melintas di Sungai Cisaranten. Akhir pekan lalu, kirmir di Kali Citepus Kelurahan Nyengseret juga ambrol, akibatnya delapan rumah rusak.
(ahy/ahy)











































