Halaman Kantor Wali Kota Lebih Leluasa

Manasik Haji

Halaman Kantor Wali Kota Lebih Leluasa

- detikNews
Sabtu, 13 Mar 2010 11:06 WIB
Halaman Kantor Wali Kota Lebih Leluasa
Bandung - Suara berbagai burung sesekali terdengar silih berganti. Hanya sesekali karena kicauan indah mereka kalah oleh deruman kendaraan yang berlalu lalang di jalan sekitar Taman Balai Kota Bandung. Jumat (12/3/2010) ini, mereka dapat saingan baru, suara-suara polos penuh canda yang melafadzkan dzikir haji.

Bukan hal yang lumrah, taman di Jalan Wastukencana ini dijadikan tempat manasik haji. Biasanya tempat ini hanya digunakan untuk tempat kongkow masyarakat merindukan kerindangan di tengah kota.

Manasik haji yang dilakukan oleh PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Al-Mubaroq memang bukan yang pertama. Namun manasik di tempat ini memang jarang dilakukan. Seringnya manasikhaji di Kota Bandung dilakukan di Tugu Bandung Lautan Api, Tegalega.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Biasanya mansik memang di Tegalega, tapi kami mau di sini," tutur Hj. Tien Kartini, Kepala Sekolah PAUD Al-Mubaroq saat ditemui di Taman Balaikota.

PAUD Al-Mubaroq adalah adalah sekolah usia dini yang berada di kawasan Babakan Cianjur, Kota Bandung. Letaknya tak jauh dari Balai Kota. Maka tak heran, bila sekolah ini memilih melakukan manasik haji yang terjadwal setahun sekali sejah 2009 lalu ini, di halaman tempat orang no.1 di Kota Bandung berkantor.

Namun bukan karena dekat saja, Tien dan jajaran pengajar lainnya lebih menyukai tempat ini ketimbang Tegalega. Mereka pun lebih menyukai tempat ini karena bisa melakukannya sendiri.

Manasik haji di Tegalega biasanya dilakukan secara bersama-sama dengan berbagai sekolah lain atas koordinasi Departemen Agama. Tak jarang karena jumlah yang terlalu banyak, anak-anak yang mengikuti simulasi rukun islam kelima ini jadi tidak konsentrasi.

"Suka kebanyakan orang kalo di Tegalega, anak-anak jadi ga konsentasi," lanjut perempuan berkacamata ini.

Tien menuturkan, karena kebanyakan peserta, anak-anak malah sering main, ngobrol, dan bercanda. Sehingga ilmu yang coba ia dan pengajar lain berikan sama sekali tidak terserap. "Nggak efektif karena malah pada maen," lanjutnya.

Selain tidak efektif, manasik di kawasan yang sering dikelilingi pedagang kaki lima ini harus menunggu sekolah lain. Karena harus ada koordinasi dengan Departemen Agama, maka mereka terpaksa menunggu kesiapan sekolah untuk bermanasik haji bersama.

"Jadi nggak bebas menentukan waktunya," imbuh perempuan berpakaian serba putih ini.

Hal ini diamini Risma, ibu dari salah seorang peserta manasik. Ia pernah mengantar keponakannya bermanasik di Tegalega tahun lalu. Yang ia lihat adalah para peserta tidak mendengarkan intruksi dari pengajar dengan seksama. Mereka lebih sering ngobrol sambil sesekali menjahili peserta yang lain.

"Malah pada jahil itu teh," ucap ibu muda ini.

Kini anaknya beserta 45 teman yang lain, bisa belajar tentang agamanya dengan lebih khusuk di tempat yang dikelilingi pohon rindang ini.

(tya/tya)


Berita Terkait