Menurut guru Seni Budaya dan Kesenian SDK Trimulya, Ade Sri Rejeki, pelajaran membatik bersama ini bertujuan agar murid bisa melihat langsung proses pembuatan suatu produk.
"Siswa kelas 6 SD diajak ke tempat batik sebagai aplikasi pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan dan juga supaya anak-anak mengenal budaya Indonesia. Tidak hanya pakai tapi tahu prosesnya," terangnya ketika berbincang dengan detikbandung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena mereka masih sangat muda, kita tanamkan nilai-nilai. Jangan asal pakai saja. Biar bisa lebih menghargai budaya juga," imbuh Ade.
Setelah membatik, anak-anak ini diwajibkan membuat laporan untuk beberapa mata pelajaran. "Laporan untuk Bahasa Indonesia dan dibuat bingkai untuk pelajaran kesenian nantinya," jelas Ade.
Sementara itu, para siswa yang ikut meskipun kelelahan usai membatik, tetap tersenyum ceria menunggu batik kreasinya kering.
Salah satunya adalah Graciela (12). "Senang banget karena bisa praktik cara membatik. Dari cap sampai batik tulis. Susah, tapi seru banget," ujarnya.
Hal senada diungkapkan Natali (13). "Senang, lebih senang batik cap, karena mudah. Tambah senang pakai baju batik juga jadinya," ungkap dia.
Sementara itu, menurut Pemilik Batik Komar, Komara, diajaknya anak-anak membatik sejak dini bisa menanamkan kesadaran menjaga warisan budaya bangsa saat mereka dewasa nanti.
"Kalau diajarkan sejak dini, pada saat mereka dewasa sudah memiliki kesadaran yang tertanam kuat untuk melestarikan budaya bangsa. Dan kita ajarkan dengan semenarik mungkin dan tidak sulit," papar Komara.
"Dalam durasi tiga jam, anak-anak diperkenalkan dari teori batik, membatik hingga menunggu batiknya kering," tandas Komara.
(dip/bbp)











































