Nyalindung Adalah Warisan yang Tidak Bisa Ditinggalkan

Longsor Ancam Warga

Nyalindung Adalah Warisan yang Tidak Bisa Ditinggalkan

- detikNews
Rabu, 03 Mar 2010 11:52 WIB
Nyalindung Adalah Warisan yang Tidak Bisa Ditinggalkan
Bandung - Euis (49) sedang membuat segelas kopi hitam untuk pembeli di warungnya ketika seorang pembeli lain menanyakan sabun krim untuk mencuci piring. Euis dan sang pembeli sabun krim tampak begitu akrab.

"Dia itu sudara saya," tutur Euis kepada detikbandung, saat bincang-bincang di tempat usahanya di Kampung Nyalindung, Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, Bandung.

Makin lama Euis bercerita, makin terbuka kisah lama warga di kampungnya. Tanah yang ditempati warga ternyata warisan turun temurun dari leluhur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Makanya, di sini masih saudaraan semua. Pendatangnya dikit, itu juga diajak warga sini," lanjutnya tanpa sungkan menunjukkan giginya yang telah copot.

Euis menuturkan, tiga generasi sebelum dirinya, membuka hutan di kawasan Cimbuleuit yang kini ia tinggali, untuk dijadikan pemukiman dan perkebunan. Namun seiring berjalannya waktu, orang-orang dari luar kampung 'menginvasi' wilayah ini. Bahkan, pihak pengembang membeli tanah perkebunan mereka dengan harga murah dibumbui janji pemerintah akan dibuatkan sekolah agar anak-anak mereka tidak perlu bersekolah jauh yang saat itu ada di wilayah Dago Bengkok.

Namun ternyata yang dibangun adalah sekolah internasional yang biayanya tidak terjangkau Euis dan keluarga. Padahal bangunan sekolah itu berada di depan matanya.

"Gak mungkin anak-anak sini sekolah di sana. Ya ujung-ujungnya tetap sekolah di Dago Bengkok," ujarnya lirih.

Namun bukan masalah sekolah yang ia dan warga lain waspadai saat ini. Melainkan bahaya longsor yang banyak terjadi di wilayah perbukitan seperti kawasan yang ia tinggali.

Tahun lalu, kawasan rumah makan yang berada tak jauh dari rumahnya mengalami longsor saat Ramadhan. Pertengahan Februari lalu, beberapa tempat yang juga tak jauh dari rumahnya kembali mengalami longsor meski tidak memakan korban jiwa.

Bukan tak mungkin, longsor pun bisa terjadi di dekat pemukiman tempat ia dan tetangga sekaligus saudaranya pindah. Apalagi, kebanyakan musibah longsor dikarenakan perubahan fungsi lahan di perbukitan yang mengalami perubahan fungsi lahan. Pohon-pohon besar berakar kuat yang dapat menahan tanah bila tergerus air, sudah disulap menjadi gedung, rumah, atau kebun bawang.

Lalu kenapa ia dan warga Kampung Nyalindung lain masih menempati tempat yang memiliki potensi bencana ini? "Tidak bisa ditinggalin begitu saja lah, tanah ini adalah sejarah penduduk sini," tutur Euis.

Ia merasa berat bila harus angkat kaki dari tanah yang dibuka leluhurnya sejak Belanda masih berkuasa. Meninggalkan Kampung Nyalindung disebutnya sama saja dengan meninggalkan orang tua mereka. Atau meninggalkan kenangan yang diceritakan tiap generasi tentang tempat ini.
 
"Banyak banget kenangan ibu di tempat ini mah, masa mau ditinggali," imbuh perempuan beranak dua dengan 4 cucu itu.
 
Kini ia hanya berharap, kampung penuh kenangan yang masih ia tinggali tidak mengalami nasib serupa seperti kawasan perbukitan lain yang longsor. Termasuk digerayangi oleh tangan-tangan yang ingin merebut rumah mereka untuk kemudian dipermak menjadi perumahan, villa, dan semacamnya.
 
Alasannya sangat sederhana, agar kisah turun temurun leluhur mereka dapat diteruskan ke anak-cucu mereka tentang sejarah tempat mereka tinggal.

(lom/lom)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini