Film Indie Kembali Unjuk Gigi

Ganffest 2010

Film Indie Kembali Unjuk Gigi

Tendi Mahadi - detikNews
Sabtu, 27 Feb 2010 12:28 WIB
Bandung - Gairah sineas muda dalam berkarya memang menarik untuk disimak. Ide-ide berbeda dari "film komersil" menjadi sebuah ciri khas yang sangat menonjol. Walau dikerjakan dengan peralatan seadaanya dan pelaku film yang masih hijau, ide-ide segar yang ditawarkan terbukti memikat hati penikmat film.

Itu lah yang terlihat dalam Ganesha Film Festival 2010 atau lebih dikenal sebagai Ganffest. Acara untuk memperingati ulang tahun emas Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB ini menghadirkan film-film pendek karya sineas muda. Bukan hanya film-film indie produksi anak muda Bandung, Kota Purbalingga, Makassar, dan Medan pun turut unjuk gigi.

Film-film pendek yang diputar di gelaran Ganffest ini menghadirkan tayangan yang cukup menghibur. Bahkan tak jarang adegan dari film-film yang diputar, mampu memainkan emosi penonton layaknya karya sineas profesional yang berpengalaman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Seru juga film-filmnya. Ada ide-ide baru yang segar di tiap film," ungkap Diah (21), seorang mahasiswa yang menonton bersama temannya saat ditemui detikbandung, Jumat (26/2/2010).

"Idenya menarik, kalo soal teknik itu mah belakangan lah. Namanya juga sineas muda," timpal Rina (21) yang berada disebelahnya.

Salah satu film yang mendapatkan aplaus dari penonton adalah "Fronteira" karya sutradara Emil Heradi. Film ini bercerita tentang pertempuran antara seorang TNI dengan seorang Fretilin Timor di sebuh hutan. Sialnya kedua orang itu malah menginjak ranjau darat yang berbeda, namun secara hampir bersamaan dan jarak yang tak sampai 10 meter.

Keduanya malah saling membuka pengalaman pahit masing-masing diselingi humor-humor ringan. Bagian akhir film yang menunjukan sulitnya rasa saling percaya adalah sebuah klimaks yang membuat penonton tak bisa menahan tawa. Kesepakatan mengangkat tubuh dari ranjau darat secara bersamaan, ternyata tak pernah dilakukan hingga film berdurasi sekitar 30 menit ini usai karena kedua orang itu memang takut mati.

"Kocak juga, emang kalo kepercayaan itu susah didapet," ungkap Rami (22),
pengunjung yang menikmati film di sebelah operator.

Berbeda lagi dengan "Anak-Anak Lumpur" yang berdurasi 9 menit 36 detik. Bercerita tentang penderitaan 3 orang anak korban lumpur Lapindo di Sidorajo. Diawali dengan kisah humor, justru penonton dibuat terdiam oleh penderitaan seorang anak miskin, yang makam ayahnya terendam lumpur, rumahnya hilang entah kemana, dan kini harus melihat tubuh sang ibu terbujur kaku dihadapannya.

"Sedih lihat klimaks filmnya," imbuh Dian diamini Rina.

Ganffest 2010 yang merupakan festival film kedua yang diadakan LFM ITB ini sendiri berlangsung dari Kamis hingga Sabtu (25-28/2/2010). Untuk hari ini, acara akan dibuka sejak pukul 13.49 WIB di Bioskop Kampus 9009 ITB. Selain screening 15 film indie, akan ada pula diskusi tentang film dan Awarding Night.

Tak hanya film indie saja yang disuguhkan LFM ITB, penampilan band-band indie
Bandung pun disuguhkan ke hadapan penonton. Adhitia Sofyan dan Endah n Resha pun akan melantunkan musik andalan mereka sore ini. Akhirnya, penampilan serba indie yang berbeda dari karya-karya mainstream yang menberondong di berbagai media pun seolah menjadi air segar berlabel kreativitas.

(ema/bbp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads