Warga Trauma Kembali ke Rumah

Longsor Ciwidey

Warga Trauma Kembali ke Rumah

Andri Haryanto - detikNews
Kamis, 25 Feb 2010 21:07 WIB
Warga Trauma Kembali ke Rumah
Bandung -

Hampir empatpuluh meter longsor tanah Gunung Waringin nyaris menghantam kediaman Paron (48). Meski selamat dan longsoran tidak menimbun rumahya, Paron was-was untuk kembali.

Ditemui di tenda pengungsian sekadarnya di blok G5, Paron bersama dua sanak keluarga lainnya, Ruhiyat (32) dan Jali (30), menceritakan kesedihan yang menimpa warga di Perkebunan Teh Dewata, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Kamis (25/2/2010).

"Waktu kerja, ada kayak suara bom. Besar sekali suaranya. Pas dilihat keluar ternyata tanah yang di atas (Gunung Waringin) berputar ke bawah," kata Paron seraya mengisap lintingan tembakaunya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pegawai harian PT Chakra Dewata yang memproduksi teh putih ini menuturkan, saat itu dia baru kembali dari tempat kerjanya di pabrik peracikan teh.

"Lihat itu saya langsung cari anak saya yang lagi sekolah, alhamdulilah mereka sudah lari duluan," tuturnya.

Paron merasa beruntung masih diberi umur panjang, pasalnya pabrik tempatnya bekerja terkena longsoran tanah. "Alhamdullilah, de. Masih dikasih umur," kata suami dari Roheti (38).

Lain halnya dengan Jali, kejadian yang menimpa warga sekitarnya terjadi kala ia hendak beristirahat selepas kerja shift malam. "Dengat suara keras dan lihat itu longsor, saya langsung lari dan menyelamatkan keluarga," tutur Jali.

"Anak yang lagi belajar di TK cepat saya susul dan ternyata sudah diselamatkan," ujar Jali.

Akibat longsor yang menimpa 3 RT 6, 7, dan 9, Jali, Paron, dan Ruhiyat masih pikir-pikir untuk kembali ke rumahnya.

"Masih trauma, kan nggak tahu bencana kapan datangnya," ujar Jali yang diamini oleh Paron dan Ruhiyat.

Mereka berharap pengelola perkebunan memberikan konpensasi relokasi pemukiman. "Kalau harus pindah, keluarga berharap pengelola memberikan pemukiman," kata Jali.

"Kita juga pertimbangkan untuk kerja kembali di perkebunan." imbuhnya.

Berbeda diungkapkan Ano (59). Dirinya tetap akan mengabdi kepada perkebunan asalkan ada rumah yang dapat ditempati bersama keluarganya. "Trauma tetap ada, asal ada rumah saja saya tetap akan bekerja di Chakra," tegasnya.

Dari pantauan, tenda pengungsian ini dibuat sekadarnya dari terpal yang diberikan relawan. Di tengah kebun teh mereka rela menetap sampai ada keputusan kembali atau tidaknya ke rumah dan bantuan datang.

(ahy/bbp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads