"Kita Investasi 100 miliar, dananya dari Kementrian BUMN," ujar Rahman Rustan, Sekretaris Perusahaan Bio Farma kepada wartawan usai rapat antara Komisi IX DPR RI bersama pihak Bio Farma, di kantor PT Bio Farma, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Rabu (24/2/2010).
Untuk meminimalkan dana penelitian yang besar, Bio Farma menggandeng pihak perguruan tinggi yang akan berperan sebagai peneliti dasar. Sehingga, hasil penelitian kampus tersebut tinggal dikembangkan Bio Farma sehingga dapat diproduksi massal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rahman mengungkapkan, pemerintah saat ini belum bisa ikut menyandang dana penelitian yang dilakukan Bio Farma. Namun masih berposisi sebagai rekan diskusi untuk mengetahui produk biomedis yang masyarakat butuhkan.
"Kalau dan belum, karena kami upayakan dari dana perusahaan saja," ungkapnya.
Ia menambahkan, penelitian vaksin memang membutuhkan biaya yang besar, sedangkan waktu penelitiannya terhitung lama. "Kalau dihitung dari awal penelitian bisa sampai 8 tahun," ujarnya.
Sementara itu, Komisi IX DPR RI berencana membantu Bio Farma untuk dapat menghemat biaya di luar penelitian. Sehingga lebih banyak dana yang dapat digunakan untuk penelitian secara maksimal. Di antaranya DPR akan mengusahakan agar Bio Farma tidak perlu mengeluarkan biaya untuk distribusi produk biomedisnya ke berbagai wilayah di Indonesia.
"Kami akan usahakan bantu agar Bio Farma bisa lebih memanfaatkan dana untuk penelitian," ujar anggota IX DPR, Surya Chandra Surapaty.
(avi/avi)










































