"Pukul 8.10 WIB saya di luar rumah, saya kira suara gemuruh itu suara kebakaran pabrik," kata Yati, saat perjalanan ke pengungsian.
Ia bersama suaminya, Suryana (47) dan dua anaknya, telah mendiami bedeng yang dibuat perusahaan PT Kabepe Chakra sejak 38 tahun lalu. "Ini baru petama kali kejadian," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mantu saya meninggal sama anaknya karena waktu itu lagi di rumah. Anak saya Ade Kurnia (23) luka-luka," katanya.
Akibat longsor, ia dan keluarganya terpaksa mengungsi. "Di rumah saudara dulu, di Nagrak Ciwidey. Masih takut ada (longsor-red) susulan," ujarnya lirih.
Tak jauh berbeda dengan Kaep (31), karyawan PT Kabepe Chakra sebagai teknisi di pabrik teh ini sempat mendengar suara gemuruh 3 kali dalam waktu yang hampir bersamaan sebelum longsor terjadi.
"Saat itu saya sedang di rumah nonton televisi. Kebetulan, saya tidak bekerja karena kebagian shift malam. Begitu dengar suara gemuruh, saya langsung bawa 2 anak saya ke atas," ujar Kaep seraya menunjuk sisi bukit Gunung Waringin yang tidak terkena longsor.
Kedua anak Kaep, Kurniawan (4) dan Adit (2) pun selamat. Namun istri Kaep, Ida (28) yang bekerja sebagai pengasuh tidak selamat. "Dia sudah berangkat kerja ke rumah petugas administrasi kebun teh. Saya tahu dia disitu. Kalau kerja tak bisa kemana-mana," ujarnya seraya tetap menunggu di lokasi longsor hingga tengah malam meski ratusan pekerja lainnya sudah mengungsi. (dip/dip)











































