Pengamat pendidikan Dan Satriana mengatakan, berdasar pengetahuannya, tiga jenis yang dimaksud ialah jenis copy paste, jenis mengetik sekaligus mencuplik, dan jenis pembuat pesanan baru serta mengumpulkan data sendiri.
"Kalau jenis copy paste itu hanya memindahkan stok contoh skripsi ke skripsi pesanan konsumen. Si pembuat jasa ini hanya tinggal mengganti sedikit nama judul, nama daerah dan nama perusaahaan tempat mahasiswa melakuakn penelitian," ungkap Satriana saat berbincang dengan detikbandung melalui ponselnya, Selasa (23/2/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang terakhir yaitu pembuat pesanan baru serta mengumpulkan data sendiri. Jenis tersebut, tambah Satriana, lebih mengerjakan order dari konsumen yang sedang melakukan penelitian dengan topik khusus atau penelitian yang belum digunakan mahasiswa lain.
"Jenis ini membuat dan mengumpulkan data sendiri," jelasnya.
Beda jenis, tentu beda harga. Menurut Satriana, untuk jenis copy paste para pebisnis ini membandrol kisaran Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta. Untuk jenis penulis dan pencuplik, mematok harga di atas Rp 3 juta. Sementara yang terakhir tadi, menghargai satu skripsi antara Rp 6 juta hingga Rp 8 juta.
"Nah, itu juga tergantung dari perguruan tinggi mahasiswanya. Kalau dari kampus populer di Kota Bandung, lebih tinggi harganya dibandingkan harga normal tadi," ungkap Satriana.
Satriana memberikan masukan kepada pihak kampus agar memfasilitasi para mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas skripsi, misalnya dengan membentuk kelompok. Ini akan memudahkan upaya mengawasi mahasiswa.
Dicontohkan Satriana, satu mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi dibantu oleh teman-temannya untuk tukar informasi atau bahan penelitian.
"Inilah yang harus difasilitasi pihak kampus. Cara tersebut bisa terkontrol ketimbang mahasiswa tergoda untuk menyelesaikan skripsi lewat jasa pembuat skripsi," tutup Satriana.
(bbp/lom)











































