Hal tersebut diungkapkan pengamat pendidikan yang juga Ketua Lembaga Advokasi Pendidikan, Dan Satriana, saat berbincang dengan detikbandung melalui ponselnya, Selasa (23/2/2010).
"Ada tiga jangka untuk para mahasiswa agar tidak tergoda memanfaatkan jasa pembuat skripsi dan sejenisnya atau terjebak plagiat. Selain itu, saatnya kualitas dosen pembimbing perlu ditingkatkan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang yang saya tahu, ada dosen pembimbing yang membimbing 5 hingga 10 orang. Ya dosen pembimbing itu harusnya membimbing di bawah lima orang. Itu bukan persoalan jumlah ideal. Tapi ini persoalan waktu untuk dosen pembimbing mengurusi redaksional dan referensi yang digunakan mahasiswa. Nanti dosen dan mahasiswa itu bisa mendiskusikan dan mengecek referensi data yang digunakan," tutur Satriana.
Lalu, jangka menengah yang harus dilakukan ialah sudah mulai membiasakan atau mengembangkan budaya menulis dan berkarya kepada mahasiswa. "Misalnya, dosen harus membisakan mahasiswa melatih menulis esai dan mengikuti pelatihan menulis," kata dia.
Sementara jangka panjang, pihak Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) untuk mewaspadai dan mengawasi perguruan tinggi yang menawarkan studi secara instan. "Masa di iklan-iklan untuk menyelesaikan S-1 itu hanya butuh tiga tahun. Inilah yang harus diwasi oleh pihak Dikti," tutup Satriana.
(bbp/lom)










































