Saat Teknologi Kuno Jadi Andalan

Delman Laku di Saat Banjir

Saat Teknologi Kuno Jadi Andalan

- detikNews
Sabtu, 20 Feb 2010 09:52 WIB
Saat Teknologi Kuno Jadi Andalan
Bandung - Tak selamanya teknologi mengerti anda, seperti tag line sebuah produsen alat elektronik. Ada saja alasan untuk kembali mengandalkan peralatan kuno untuk membantu kita melakukan aktivitas. Aktivitas yang terhambat karena teknologi modern yang kita andalkan tidak berkutik melawan kekuatan alam.

Contoh nyata bisa kita lihat saat hendak menembus banjir dengan ketinggian di atas 60 cm yang terjadi di beberapa lokasi di Kabupaten Bandung, seperti di Kecamatan Baleendah dan Dayeuh Kolot.

Belasan pengguna sepeda motor harus gigit jari saat berusaha menaklukan genangan air hingga mencapai 75 cm di Jalan Raya Banjaran yang menghubungkan Banjaran dengan Kota Bandung melewati Baleendah dan Dayeuh Kolot. Walau, sebagian kecil dari pembesut kuda besi bisa melaluinya tanpa merasa kesal akibat motornya mogok.

"Yah, biasa businya kemasukan air. Kirain mah bisa lewat," kesal Dadan (28) wiraswasta asal Banjaran yang hendak pergi menemui pacarnya di Jalan Mohammad Toha, Kota Bandung. Sayang, perjalanan dengan motor bebek keluaran tahun 2008 miliknya, seolah tidak diridhoi Tuhan.

Genangan air pun ternyata menciutkan nyali supir angkot jurusan Banjaran-Tegal Lega yang melewati rute ini. Mereka memilih memutar rute ke arah yang lebih jauh guna melewati banjir. Alhasil, kendaraan umum yang diandalkan untuk melewati banjir
sepanjang lebih dari 300 meter ini adalah dengan menggunakan delman.

Alat transportasi jaman baheula ini ternyata sangat efektif membantu warga melewati banjir akibat luapan Citarum yang memisahkan Kecamatan Dayeuh Kolot dengan Baleendah. Warga menggantungkan kebutuhan mobilisasi mereka kepada kusir dan kuda saat kendaraan bermotor dengan teknologi yang jauh lebih maju tak dapat diandalkan.

"Aku abis pulang sekolah, enggak ada angkot jadi naek delman aja," tutur Aminah (15), seorang pelajar SMP.

"Masa ibu jalan kaki, banjirnya aja sampai pinggang. Yang ada sampai rumah tambah cucian dong," timpal Siti (43), seorang ibu rumah tangga diiringi tawa ringan.

Mereka berdua bersama puluhan pengguna jasa delman ini memang menyesalkan musibah banjir yang seolah tak mau pergi dari kawasan ini. Namun itu tak boleh menjadi alasan untuk menghentikan aktivitas. Karena bila terus meratapi banjir langganan ini, tidak akan membuat kehidupan mereka jadi lebih baik.

"Alhamdulillah rumah ibu enggak kena banjir. Salah satu cara bersyukur kalau kata ibu ya dengan tetap bekerja walau ada halangan banjir," ujar Siti.

Para penumpang delman mengaku, keberadaan delman sangat membantu mereka. Bagaimana pun juga, delman mereka anggap sebagai alat transportasi umum yang paling aman dan tangguh saat melewati genangan air. Mereka tak keberatan membayar lebih mahal dari tarif angkot yang biasa mengantar mereka, asalkan aktivitas mereka masih bisa terlaksana.

"Ya maklumlah namanya juga ngelewatin banjir. Asal jangan keterlaluan aja naikin tarifnya," tutup Aminah.

Saat delman telah terisi tujuh orang termasuk sang kusir, delman berkuda hitam ini melaju pelan menembus banjir. Gelombang air seolah menari saat kaki kuda dan roda delman membelah genangan air berwarna coklat. Meninggalkan orang-orang yang mendorong motor mereka karena dikalahkan sang banjir kiriman.
(ema/ema)


Berita Terkait