Demikian diungkapkan oleh Sony Sugema, Dirut Sony Sugema College (SSC) sebuah lembaga pendidikan saat berbincang dengan detikINET usai meluncurkan layanan Digital Learning System (DLS) di Meeting Room, Quantum Q-College, Jalan Cisangkuy No 20, Kamis (18/2/2010).
Sony menyayangkan rencana razia yang akan dilakukan oleh Satpol PP tersebut. Menurutnya jika ingin membuat pelajar tidak bolos sekolah, bukan dengan cara seperti itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya diberitakan Satpol PP Kota Bandung bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kota Bandung akan merazia warnet-warnet. Hal tersebut dilakukan karena ditenggarai warnet menjadi tempat pelajar bolos sekolah.
Rencana razia warnet tersebut dinilai Sony kurang efektif dilakukan. Justru akan semakin membuat pelajar melawan serta mencari celah untuk bolos. Karena secara psikologis, anak sekolah jika diancam akan kesal dan mencoba mencari jalan lain.
"Saya yakin kalau dirazia, anak-anak akan semakin penasaran dan mengejar rasa penasarannya. Mereka akan cari jalan lain untuk membolos," ungkapnya.
Sony berpendapat, seharusnya untuk mencegah anak sekolah bolos, semua pihak harus diajak rembuk. Bukan hanya sekolah dan orang tua pelajar saja. Tapi juga semua elemen, misalnya jika warnet dianggap menjadi tempat anak sekolah bolos, pihak sekolah harus mengajak bicara pemilik warnetnya.
"Pelajar diberikan pemahaman tentang internet. Orang tua dikasih tahu tentang perkembangan teknologi. Memang prosesnya lebih lama, tapi saya yakin akan lebih efektif ketimbang melakukan razia. Coba saja dirazia sekarang, besok-besok juga bolos lagi," tutupnya.
(afz/bbp)










































