"Makanya saya merasa sangat prihatin," ungkap Ardikana yang ditemui di studionya, Jumat (12/2/2010).
Lulusan seni rupa UPI (dulu bernama IKIP) Bandung ini mengatakan, bila bepergian ke kantung-kantung seni di kota lain, ia selalu mempromosikan Pasar Seni Tamansari kepada berbagai pihak baik itu seniman, penggemar seni, maupun pihak-pihak pembuat kebijakan. Namun ternyata kondisi pasar seni ini sering tidak memuaskan orang-orang yang ia undang untuk berkunjung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, beberapa kali seniman di pasar seni ini membuat aktivitas lain untuk mendorong promosi tempat ini. Semuanya dengan dana swadaya seniman. Walau dampaknya cukup baik dengan meningkatnya jumlah pengunjung. Namun dengan kondisi tempat yang masih serba minim, kesan kurang mengenakkan masih sering pengunjung bawa pulang.
"Walau promosinya ada hasil, namun dengan tempat seperti ini malah kekecewaan yang dihasilkan," keluhnya.
Untuk itu, ia membakar 100 karyanya agar mengingatkan berbagai pihak akan keberadaan dan kondisi Pasar Seni Tamansari. Ia mengatakan sebagai kota yang dikenal gudangnya seniman, ekspektasi yang besar dibebankan pada Kota Bandung. Namun sarana dan dukungan lain sering membentur ekspektasi ini.
"Ekspektasi orang-orang terhadap seni dari Kota Bandung itu besar sekali," lanjutnya.
Ia mengaku kagum dengan seniman-seniman asal Jelekong, Kabupaten Bandung, yang mampu berkarya dan menembus sentra-sentra kesenian di Indonesia seperti Bali. Saking produktifnya seniman di tempat ini, karya-karya dari Jelekong bisa dipasarkan hingga dua kontainer tiap bulan, baik untuk di dalam maupun luar negeri.
Ia menyebut keberhasilan sangat terbantu oleh peran pemerintah daerahnya untuk membantu pengembangan kesenian di wilayahnya. Sayangnya ia merasa hal tersebut belum terjadi di Kota Bandung.
"Desa Jelekong saja dinobatkan sebagai kampung seni oleh pemerintahnya, harusnya di Kota Bandung pun bisa seperti itu," harapnya.
(lom/lom)











































