Banyu di Antara Dukungan dan Kekecewaan Mahasiswa

Kasus Plagiarisme

Banyu di Antara Dukungan dan Kekecewaan Mahasiswa

- detikNews
Kamis, 11 Feb 2010 15:05 WIB
Banyu di Antara Dukungan dan Kekecewaan Mahasiswa
Bandung - Sosok Anak Agung Banyu Perwita ternyata memiliki kesan tersendiri di kalangan mahasiswa Unpar, khususnya dari mereka yang kuliah di jurusan HI Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Ada yang begitu mengagumi profesor itu, namun ada juga yang menganggap Banyu sebagai sosok yang kurang menyenangkan. Dengan adanya kasus plagiarisme yang menimpanya, masih banyak mahasiswa yang mendukungnya, namun juga tak sedikit yang kecewa.

Putri Rachmadani (22) mahasiswi semester VIII mengaku mendukung profesor Anak Agung Banyu Perwita yang sempat mengajarnya di semester VI.

"Mas Banyu mengajarnya enak, mudah dimengerti dan pengetahuannya luas. Selain itu dibanding dosen yang lain memang lebih baik. Kasus yang kemarin menyeruak memang disayangkan, tapi saya ingin dia tetap mengajar,"Β  tutur Putri saat ditemui di kampus Unpar, Jalan Ciumbuleuit, Kamis (11/2/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lain lagi pendapat Mirza Fahmi (19) Mahasiswa semeseter IV HI Unpar ini, dirinya mengaku tak simpatik pada pengajar di kampusnya itu.

"Sekalipun saya belum pernah diajar, saya sudah cukup kecewa. Sebelum kasus ini saya sudah dengar bagaimana dia (Banyu-red). Dan kasus ini meruntuhkan rasa hormat saya pada beliau yang seorang profesor," papar Mirza.

Pendapat senada dilontarkan Dendi Nugraha (19) Mahasiswa semeseter IV HI Unpar. "Perbuatanya jelas mencoreng nama HI. Jujur saja saya sangat kecewa," ujarnya.

Sementara itu, seorang mahasiswa lainnya yang tak mau identitasnya disebutkan mengungkap jika Banyu dikenal sebagai pengajar yang high profile alias sombong.

"Dari mahasiswa memang dia banyak disuka sekaligus banyak tidak disuka oleh mahasiswa. Alasannya beragam. Sebelum ada kasus plagiat juga sudah banyak pro dan kontra," tutur seorang mahasiswa HI angkatan 2006 itu.

Banyu dinilai memiliki karakter high profile dari caranya menyombongkan pengalaman-pengalamannya itu.

"Dia high profile bagi sebagian mahasiswa. Sering menceritakan pengalaman dia yang dianggapnya menarik. Pernah ketemu orang-orang Deplu misalnya, dia begitu bangga menceritakannya" tuturnya.

Ditambahkannya, gaya pengajar ini kerap mengenakan busana batik dan celana jeans.

"Tiap ngajar dia biasa berkendara dengan mobil Toyota Vios. Biasanya mengenakan batik dan jeans. Itu jadi ciri khas dia," jelasnya.

Menurutnya, Banyu terakhir mengajar pada hari Jumat. Sehari setelah artikelnya dimuat di salah satu media massa nasional.

"Saya ketemu dengan beliau hari Jumat (5/2/2010). Terakhir mengajar mata kuliah Kajian Strategis untuk mahasiswa semester 6," tandasnya.

(tya/lom)


Berita Terkait